Beliau ra. berkata:
" bertakwalah kepada alloh swt,dan jadikanlah orang tertua diantara kalian sebagai pemimpin.sungguh apabila suatu kaum mengangkat orang tertua mereka sebagai pemimpin niscaya pemimpin tersebut akan menggantikan peran orang tua mereka dalam memberikan/melakukan yang terbaik bagi mereka.jikalau orang termudanya yang dijadikan sebagai pemimpin yang ditaati tentu akan menyebabkan berkurangnya penghormatan terhadap orang-orang tuanya,berakibat pada pembodohan mereka,peremehan,serta,sikap tidak merasa butuh terhadap orang-orang tursebut.
Hendaklah kalian memiliki harta dan mengembangkan melalui pekerjaan/usaha yang baik,karena hal itu akan menjadikan kalian memiliki kemuliaan serta kedudukan yang tinggi serta mencukupkan kalian dari miminta . hati-hatilah kalian ,jangan sampai mengemis-ngemis kepada manusia,karan itu merupakan batasan terakhir dari usaha seseorang.jika aku mati,janganlah kalian melakukan hiyahah(meratap),sebab rosulullah sawtidaklah diniyahahi,jika aku mati,kuburkanlah ditanah yang tidak diketahui oleh bani bakr bin wail, karena dimasa jahiliah dulu,au pernah menyerang mereka secara tiba-tiba pada saat mereka lengah"
(Syarh sahih Al-Adabul mufrad hal.475)
Dinukil dari majallah Asy Syariah "permata salaf" vol.v/no.50/1430 H/2009
Jumat, 15 Januari 2010
sempurnanya suatu amalan
Abu Abdillah An-nabaji rahimahullah berkata:
"Ada lima karater yang dengannya akan sempurna suatu amalan:
1) keimanan yang disertai pengetahuan yang benar tentang alloh swt,
2) mengenal al-haq
3) mengihlaskan seluruh amalan hanya untuk alloh swt,
4) beramal sesuai dengan sunnah rosulullah saw, dan
5) makan dari makan yang halal.
Apabila salah satu dari lima karakter ini hilang ,maka tidak akan terangkat amalan-amalannya.jika engkau mengenal alloh swt namun tidak mengetahui al-haq,maka tidak ada manfaatnya.Dan andaikata engkau mengenal alloh,mengetahui al-haq,namun tidak ikhlas dalam amalan-amalanmu ,maka tidak ada gunanya.Atau engkau mengenal alloh swt ,mengetahu al-haq,ikhlas dalam amalan-amalanmu,namun tidak sesuai dengan sunnah rosululloh saw maka tidak ada faedahnya.Dan andaikan keempat perkara tersebut terpenuhi,namun engakau tidak mengkonsumsi makanan yang halal,maka tidak ada manfaatnya"
(jami'ul Ulum wal Hikam,hal 275-258)
Dinukil dari majalah AsySyariah "permata salaf".vol.III/no.35/1428 H/2007
"Ada lima karater yang dengannya akan sempurna suatu amalan:
1) keimanan yang disertai pengetahuan yang benar tentang alloh swt,
2) mengenal al-haq
3) mengihlaskan seluruh amalan hanya untuk alloh swt,
4) beramal sesuai dengan sunnah rosulullah saw, dan
5) makan dari makan yang halal.
Apabila salah satu dari lima karakter ini hilang ,maka tidak akan terangkat amalan-amalannya.jika engkau mengenal alloh swt namun tidak mengetahui al-haq,maka tidak ada manfaatnya.Dan andaikata engkau mengenal alloh,mengetahui al-haq,namun tidak ikhlas dalam amalan-amalanmu ,maka tidak ada gunanya.Atau engkau mengenal alloh swt ,mengetahu al-haq,ikhlas dalam amalan-amalanmu,namun tidak sesuai dengan sunnah rosululloh saw maka tidak ada faedahnya.Dan andaikan keempat perkara tersebut terpenuhi,namun engakau tidak mengkonsumsi makanan yang halal,maka tidak ada manfaatnya"
(jami'ul Ulum wal Hikam,hal 275-258)
Dinukil dari majalah AsySyariah "permata salaf".vol.III/no.35/1428 H/2007
Bahaya Bid'ah
Abdullah bin mas'ud ra
Ikutilah jejak kami dan janganlah kamu mengadakan kebid'ahan .sesunguhnya agama islam telah mencukupi bagi kehidupan kalian.
Mu'adz bin jabal ra
Sesungguhnya dibelakang hari banyak terjadi fitnah yang padanya banyak harta ,alquran terbuka sehingga orang beriman ,orang munafik,laki-laki,perempuan ,anak kecil,orang dewasa ,budak dan orang merdeka mengambilnya ,hingga ada orang berkata:"mengapa manusia tidak mengikutiku padahal aku telah menyampaikan Al-quran ?(ternyata)mereka tidak akan mengikutiku hingga aku mengadakan kebid'ahan untuk mereka ."waspadalah terhadap kebid'ahan yang diadakan oleh suatu kaum karena mereka telah sesat.Aku memperingatkan kalian dari hakim yang sesat,sesungguhnya setan berkata sesat melalui lisan hakim dan orang munafik terkadang berkata benar.
Abu Idris Al-Khaulani rahimahulloh
Aku melihat kobaran api dimesjid yang tidak bisa aku padamkan lebih aku sukai dari pada aku melihat kebid'ahan dimesjid yang aku tidak aku mengubahnya.
Abdullah bin Al-mibarak rohimahullah
Ketahuilah wahai saudaraku!Sesungguhnya kematian adalah karamah bagi seorang muslim yang bertemu alloh diatas sunnah ,maka (kita ucapkan)inna lillahi wa inna ilaihi raji'un dan mengadu kepada alloh akan keterasingan kita,hilangnya saudara-saudara kita,sedikitnya penolong assunnah dan bermunculannya kebid'ahan,dan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un kita mengadukan kepada alloh terhadap hilangnya para ulama,pengikut assunnah dan terhadap bermunculannya kebid'ahan yang menimpa ummat ini.
Dinukil dari Mukhtasar kitab Al-I'tisham karya Imam Asy-syatibi,hal.23-26
dinukil dari majallah asysyariah "permata salaf".vol.I/No.02/september 2003/sya'ban 1424 H
Ikutilah jejak kami dan janganlah kamu mengadakan kebid'ahan .sesunguhnya agama islam telah mencukupi bagi kehidupan kalian.
Mu'adz bin jabal ra
Sesungguhnya dibelakang hari banyak terjadi fitnah yang padanya banyak harta ,alquran terbuka sehingga orang beriman ,orang munafik,laki-laki,perempuan ,anak kecil,orang dewasa ,budak dan orang merdeka mengambilnya ,hingga ada orang berkata:"mengapa manusia tidak mengikutiku padahal aku telah menyampaikan Al-quran ?(ternyata)mereka tidak akan mengikutiku hingga aku mengadakan kebid'ahan untuk mereka ."waspadalah terhadap kebid'ahan yang diadakan oleh suatu kaum karena mereka telah sesat.Aku memperingatkan kalian dari hakim yang sesat,sesungguhnya setan berkata sesat melalui lisan hakim dan orang munafik terkadang berkata benar.
Abu Idris Al-Khaulani rahimahulloh
Aku melihat kobaran api dimesjid yang tidak bisa aku padamkan lebih aku sukai dari pada aku melihat kebid'ahan dimesjid yang aku tidak aku mengubahnya.
Abdullah bin Al-mibarak rohimahullah
Ketahuilah wahai saudaraku!Sesungguhnya kematian adalah karamah bagi seorang muslim yang bertemu alloh diatas sunnah ,maka (kita ucapkan)inna lillahi wa inna ilaihi raji'un dan mengadu kepada alloh akan keterasingan kita,hilangnya saudara-saudara kita,sedikitnya penolong assunnah dan bermunculannya kebid'ahan,dan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un kita mengadukan kepada alloh terhadap hilangnya para ulama,pengikut assunnah dan terhadap bermunculannya kebid'ahan yang menimpa ummat ini.
Dinukil dari Mukhtasar kitab Al-I'tisham karya Imam Asy-syatibi,hal.23-26
dinukil dari majallah asysyariah "permata salaf".vol.I/No.02/september 2003/sya'ban 1424 H
Senin, 11 Januari 2010
Biografi Syaikh Robi’ bin Hady Al-Madkhaly
Biografi Syaikh Robi’ bin Hady Al-Madkhaly
BIOGRAFI SYAIKH ROBI’ BIN HADI ‘UMAIR AL MADKHALI
Penulis: Syaikh Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi
Nama dan nasab beliau:
Beliau adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi bin Muhammad ‘Umair Al-Madkhali, berasal dari suku Al-Madakhilah yang terkenal di Jaazaan, sebuah daerah di sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi. Suku ini termasuk keluarga Bani Syubail, sedangkan Syubail adalah anak keturunan Yasyjub bin Qahthan.
Kelahiran beliau:
Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah sejauh kurang lebih tiga kilometer dan sekarang telah terhubungkan dengan kota tersebut. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 1351 H. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih berumur sekitar satu setengah tahun, beliau tumbuh berkembang di pangkuan sang ibu -semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Sang ibu membimbing dan mendidik beliau dengan sebaik-baiknya, mengajarkan kepada beliau akhlak yang terpuji, berupa kejujuran maupun sifat amanah, juga memotivasi putranya untuk menunaikan shalat dan meminta beliau menepati penunaian ibadah tersebut. Selain pengasuhan ibunya, beliau diawasi dan dibimbing pula oleh pamannya (dari pihak ayah).
Perkembangan Keilmuan
Ketika Syaikh Rabi’ berusia delapan tahun, beliau masuk sekolah yang ada di desanya. Di sekolah tersebut beliau belajar membaca dan menulis. Termasuk guru yang membimbing beliau dalam belajar menulis adalah Asy-Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-Qadli Ahmad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali dan dari seseorang yang bernama Muhammad bin Husain Makki yang berasal dari kota Shibya’. Syaikh Rabi’ mempelajari Al Qur`an di bawah bimbingan Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali disamping belajar ilmu tauhid dan tajwid.
Setelah lulus, beliau melanjutkan studi ke Madrasah As-Salafiyyah di kota Shamithah. Termasuk guru beliau di madrasah tersebut adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki rahimahullah, seorang alim kenamaan yang termasuk salah satu murid besar Asy-Syaikh Al-Qar’awi rahimahullah. Di bawah bimbingannya, Syaikh Rabi’ mempelajari kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nadhar karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah Ta’ala.
Kemudian beliau belajar di Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah kepada sejumlah ulama terkemuka, yang paling terkenal adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Masyhur Hafidh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah Ta’ala dan saudaranya Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Hakami, juga kepada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah. Di ma’had tersebut beliau belajar akidah kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Doktor Muhammad Amman bin ‘Ali Al-Jami. Demikian pula kepada Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi, beliau mempelajari ilmu fikih dengan kitab Zaadul Mustaqni’ dan kepada beberapa orang lagi selain mereka, di mana Syaikh mempelajari ilmu bahasa Arab, adab, ilmu Balaghah dan ilmu ‘Arudl (cabang-cabang ilmu bahasa Arab-pent.)
Tahun 1380 H seusai ujian penentuan akhir, beliau lulus dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota Shamithah dan di awal tahun 1381 H beliau masuk ke Fakultas Syari’ah di Riyadl selama beberapa waktu lamanya, sekitar satu bulan, satu setengah atau dua bulan saja. Ketika Universitas Islam Madinah berdiri, beliau pindah ke sana dan bergabung di Fakultas Syari’ah. Beliau belajar di Universitas tersebut selama empat tahun dan lulus darinya pada tahun 1384 H dengan predikat cumlaude.
Diantara guru-guru beliau di Universitas Islam Madinah adalah:
• Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits dan sanad.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul Bayan, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.
• Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.
• Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.
Setelah lulus, beliau menjadi dosen di almamater beliau di Universitas Islam Madinah selama beberapa waktu, kemudian beliau melanjutkan studi ke tingkat pasca sarjana dan berhasil meraih gelar master di bidang ilmu hadits dari Universitas Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz cabang Mekkah pada tahun 1397 H dengan disertasi beliau yang terkenal, berjudul Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni. Pada tahun 1400 H beliau berhasil menyelesaikan program doktornya di Universitas yang sama, dengan predikat cum laude setelah beliau menyelesaikan tahqiq (penelitian, komentar –pent.) atas kitab An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala.
Syaikh Rabi’ kemudian kembali ke Universitas Islam Madinah dan menjadi dosen di Fakultas Hadits. Beliau mengajar ilmu hadits dengan segala bentuk dan cabangnya, serta berkali-kali menjadi ketua jurusan Qismus Sunnah pada program pasca sarjana dan sekarang beliau menjabat sebagai dosen tinggi. Semoga Allah menganugerahkan kepada beliau kenikmatan berupa kesehatan dan penjagaan dalam beramal kebaikan.
Sifat dan akhlak beliau
Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala memiliki keistimewaan berupa sifat sangat rendah hati dihadapan saudara-saudaranya, murid-muridnya maupun kepada para tamunya. Beliau seorang yang sangat sederhana dalam hal tempat tinggal, pakaian maupun kendaraan, beliau tidak menyukai kemewahan dalam semua urusan ini.
Beliau adalah seorang yang selalu ceria, berseri-seri wajahnya dan sangat ramah, membuat teman duduk beliau tidak merasa bosan dengan kata-kata beliau. Majelis beliau senantiasa dipenuhi dengan pembacaan hadits dan Sunnah serta tahdzir (peringatan-pent.) dari kebid’ahan dan para pelakunya, sehingga orang yang belum mengenal beliau akan menyangka bahwa tidak ada lagi kesibukan beliau selain hal tersebut.
Syaikh Rabi’ sangat mencintai salafiyyin penuntut ilmu, beliau menghormati dan memuliakan mereka. Beliau berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan beliau, baik dengan diri sendiri maupun dengan harta. Rumah beliau selalu terbuka untuk para penuntut ilmu, sampai-sampai hampir tidak pernah beliau menyantap sarapan pagi makan siang maupun makan malam sendirian, karena selalu saja ada pelajar yang mengunjungi beliau. Beliau menanyakan keadaan mereka dan membantu mereka.
Syaikh Rabi’ termasuk ulama yang sangat bersemangat menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta akidah salaf, penuh semangat dalam mendakwahkannya dan beliau adalah pedang Sunnah dan akidah salaf yang amat tajam, yang amat sedikit bandingannya di masa sekarang. Beliau adalah pembela Sunnah dan kehormatan salafus salih di jaman kita ini, siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan yang tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela.
Karya-karya beliau
Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah karya tulis -Alhamdulillah – beliau hafidzahullah telah membicarakan berbagai bab yang sangat dibutuhkan secara proporsional, terlebih khusus lagi dalam membantah para pelaku bid’ah dan para pengikut hawa nafsu di jaman yang penuh dengan para perusak namun sedikit orang yang berbuat ishlah (perbaikan, pent.) Diantara karya beliau :
1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni, sejilid besar dan ini merupakan thesis beliau untuk meraih gelar master.
2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi program doktoral beliau.
3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila Ash-Shahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.
4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.
5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.
6. Manhaj Ahlis Sunnah fii Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.
7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa Hasan wa Dla’if baina Waqi’il Muhadditsin wa Mughalithatil Muta’ashibin, sebuah bantahan terhadap ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah dan Muhammad ‘Awamah.
8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha.
9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa hukmul Isti’anah bi ghairil Muslimin.
10. Makanatu Ahlil Hadits.
11. Manhajul Imam Muslim fii Tartibi Shahihihi.
12. Ahlul Hadits Hum Ath-Thaifah Al-Manshurah An-Najiyah hiwar ma’a Salman Al-‘Audah
13. Mudzakarah fil Hadits An-Nabawi.
14. Adlwa` Islamiyyah ‘ala ‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.
15. Matha’inu Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
16. Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim.
17. Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.
18. Mujazafaatul Hiddaad.
19. Al-Mahajjatul Baidla` fii Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.
20. Jamaa’ah Waahidah Laa Jamaa’aat wa Shiraathun Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar ma’a ‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.
21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-Raddil Wajiiz.
22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim wa Aatsaruhu, yang dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.
23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar, Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.
24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil Milyibaari minal Abaathiil.
25. Dahdlu Abaathiil Musa Ad-Duwaisy.
26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil Lathif Basymiil.
27. Inqidladlusy Syihb As-Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan Al-Khalafiyyah.
28. An-Nashihah Hiyal Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil ‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di majalah At-Tau’iyyah Al-Islamiyyah
29. Al-Kitab was Sunnah Atsaruhuma wa makaanatuhuma wadl Dlarurah ilaihima fii Iqaamatit Ta’liimi fii Madaarisinaa, artikel majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.
30. Hukmul Islam fii man Sabba Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli Risaalatihi, artikel koran Al-Qabas Al-Kuwaitiyyah edisi 8576 tahun 9/5/1997.
Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis lain di luar apa yang telah disebutkan di sini. Kita memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha kebaikan yang beliau lakukan dan semoga Allah memberikan taufik kepada beliau kepada perkara-perkara yang dicintai dan diridlai-Nya, Dia-lah penolong semua itu dan maha mampu atasnya.
(Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh Rabi’ hafidzahullah dengan sedikit perubahan)
(Dikutip dari terjemah buku karya Syaikh Abu ‘Abdillah Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi, edisi Bahasa Indonesia Mengenal Lebih Dekat Asy Syaikh Rabi’ Bin Haadi al Madkhali, Sosok Ulama Pembela Sunnah Nabi. Diterjemahkan Ummu Affan, penerbit Media Ahlus Sunnah, Purwokerto)
Sumber: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=100
BIOGRAFI SYAIKH ROBI’ BIN HADI ‘UMAIR AL MADKHALI
Penulis: Syaikh Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi
Nama dan nasab beliau:
Beliau adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Rabi’ bin Hadi bin Muhammad ‘Umair Al-Madkhali, berasal dari suku Al-Madakhilah yang terkenal di Jaazaan, sebuah daerah di sebelah selatan Kerajaan Arab Saudi. Suku ini termasuk keluarga Bani Syubail, sedangkan Syubail adalah anak keturunan Yasyjub bin Qahthan.
Kelahiran beliau:
Syaikh Rabi’ dilahirkan di desa Al-Jaradiyah, sebuah desa kecil di sebelah barat kota Shamithah sejauh kurang lebih tiga kilometer dan sekarang telah terhubungkan dengan kota tersebut. Beliau dilahirkan pada akhir tahun 1351 H. Ayah beliau meninggal ketika beliau masih berumur sekitar satu setengah tahun, beliau tumbuh berkembang di pangkuan sang ibu -semoga Allah Ta’ala merahmatinya. Sang ibu membimbing dan mendidik beliau dengan sebaik-baiknya, mengajarkan kepada beliau akhlak yang terpuji, berupa kejujuran maupun sifat amanah, juga memotivasi putranya untuk menunaikan shalat dan meminta beliau menepati penunaian ibadah tersebut. Selain pengasuhan ibunya, beliau diawasi dan dibimbing pula oleh pamannya (dari pihak ayah).
Perkembangan Keilmuan
Ketika Syaikh Rabi’ berusia delapan tahun, beliau masuk sekolah yang ada di desanya. Di sekolah tersebut beliau belajar membaca dan menulis. Termasuk guru yang membimbing beliau dalam belajar menulis adalah Asy-Syaikh Syaiban Al-‘Uraisyi, Al-Qadli Ahmad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali dan dari seseorang yang bernama Muhammad bin Husain Makki yang berasal dari kota Shibya’. Syaikh Rabi’ mempelajari Al Qur`an di bawah bimbingan Asy-Syaikh Muhammad bin Muhammad Jabir Al-Madkhali disamping belajar ilmu tauhid dan tajwid.
Setelah lulus, beliau melanjutkan studi ke Madrasah As-Salafiyyah di kota Shamithah. Termasuk guru beliau di madrasah tersebut adalah Asy-Syaikh Al-‘Alim Al-Faqih Nashir Khalufah Thayyasy Mubaraki rahimahullah, seorang alim kenamaan yang termasuk salah satu murid besar Asy-Syaikh Al-Qar’awi rahimahullah. Di bawah bimbingannya, Syaikh Rabi’ mempelajari kitab Bulughul Maram dan Nuzhatun Nadhar karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullah Ta’ala.
Kemudian beliau belajar di Ma’had Al-‘Ilmi di Shamithah kepada sejumlah ulama terkemuka, yang paling terkenal adalah Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Masyhur Hafidh bin Ahmad Al-Hakami rahimahullah Ta’ala dan saudaranya Fadlilatusy Syaikh Muhammad bin Ahmad Al-Hakami, juga kepada Asy-Syaikh Al-‘Allamah Al-Muhaddits Ahmad bin Yahya An-Najmi hafidhahullah. Di ma’had tersebut beliau belajar akidah kepada Asy-Syaikh Al-’Allamah Doktor Muhammad Amman bin ‘Ali Al-Jami. Demikian pula kepada Asy-Syaikh Al-Faqih Muhammad Shaghir Khamisi, beliau mempelajari ilmu fikih dengan kitab Zaadul Mustaqni’ dan kepada beberapa orang lagi selain mereka, di mana Syaikh mempelajari ilmu bahasa Arab, adab, ilmu Balaghah dan ilmu ‘Arudl (cabang-cabang ilmu bahasa Arab-pent.)
Tahun 1380 H seusai ujian penentuan akhir, beliau lulus dari Ma’had Al-‘Ilmi di kota Shamithah dan di awal tahun 1381 H beliau masuk ke Fakultas Syari’ah di Riyadl selama beberapa waktu lamanya, sekitar satu bulan, satu setengah atau dua bulan saja. Ketika Universitas Islam Madinah berdiri, beliau pindah ke sana dan bergabung di Fakultas Syari’ah. Beliau belajar di Universitas tersebut selama empat tahun dan lulus darinya pada tahun 1384 H dengan predikat cumlaude.
Diantara guru-guru beliau di Universitas Islam Madinah adalah:
• Mufti besar Kerajaan Arab Saudi, Samahatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdillah bin Baz rahimahullah Ta’ala, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari Aqidah Thahawiyah.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin Al-Albani, mempelajari bidang ilmu hadits dan sanad.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah ‘Abdul Muhsin Al-‘Abbad, mempelajari ilmu fikih tiga tahun lamanya dengan kitab Bidayatul Mujtahid.
• Fadlilatusy Syaikh Al-‘Allamah Al-Hafidh Al-Mufassir Al-Muhaddits Al-Ushuli An-Nahwi wal Lughawi Al-Faqih Al-Bari’ Muhammad Al-Amin Asy-Syinqithi, penulis tafsir Adlwaul Bayan, kepada beliau Syaikh Rabi’ mempelajari ilmu tafsir dan ushul fikih selama empat tahun.
• Asy-Syaikh Shalih Al-‘Iraqi, belajar akidah.
• Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Abdul Ghafar Hasan Al-Hindi, belajar ilmu hadits dan mushthalah.
Setelah lulus, beliau menjadi dosen di almamater beliau di Universitas Islam Madinah selama beberapa waktu, kemudian beliau melanjutkan studi ke tingkat pasca sarjana dan berhasil meraih gelar master di bidang ilmu hadits dari Universitas Al-Malik ‘Abdul ‘Aziz cabang Mekkah pada tahun 1397 H dengan disertasi beliau yang terkenal, berjudul Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni. Pada tahun 1400 H beliau berhasil menyelesaikan program doktornya di Universitas yang sama, dengan predikat cum laude setelah beliau menyelesaikan tahqiq (penelitian, komentar –pent.) atas kitab An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, karya Al-Hafidh Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala.
Syaikh Rabi’ kemudian kembali ke Universitas Islam Madinah dan menjadi dosen di Fakultas Hadits. Beliau mengajar ilmu hadits dengan segala bentuk dan cabangnya, serta berkali-kali menjadi ketua jurusan Qismus Sunnah pada program pasca sarjana dan sekarang beliau menjabat sebagai dosen tinggi. Semoga Allah menganugerahkan kepada beliau kenikmatan berupa kesehatan dan penjagaan dalam beramal kebaikan.
Sifat dan akhlak beliau
Syaikh Rabi’ hafidzahullah Ta’ala memiliki keistimewaan berupa sifat sangat rendah hati dihadapan saudara-saudaranya, murid-muridnya maupun kepada para tamunya. Beliau seorang yang sangat sederhana dalam hal tempat tinggal, pakaian maupun kendaraan, beliau tidak menyukai kemewahan dalam semua urusan ini.
Beliau adalah seorang yang selalu ceria, berseri-seri wajahnya dan sangat ramah, membuat teman duduk beliau tidak merasa bosan dengan kata-kata beliau. Majelis beliau senantiasa dipenuhi dengan pembacaan hadits dan Sunnah serta tahdzir (peringatan-pent.) dari kebid’ahan dan para pelakunya, sehingga orang yang belum mengenal beliau akan menyangka bahwa tidak ada lagi kesibukan beliau selain hal tersebut.
Syaikh Rabi’ sangat mencintai salafiyyin penuntut ilmu, beliau menghormati dan memuliakan mereka. Beliau berusaha untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sesuai kemampuan beliau, baik dengan diri sendiri maupun dengan harta. Rumah beliau selalu terbuka untuk para penuntut ilmu, sampai-sampai hampir tidak pernah beliau menyantap sarapan pagi makan siang maupun makan malam sendirian, karena selalu saja ada pelajar yang mengunjungi beliau. Beliau menanyakan keadaan mereka dan membantu mereka.
Syaikh Rabi’ termasuk ulama yang sangat bersemangat menyeru kepada Al-Kitab dan As-Sunnah serta akidah salaf, penuh semangat dalam mendakwahkannya dan beliau adalah pedang Sunnah dan akidah salaf yang amat tajam, yang amat sedikit bandingannya di masa sekarang. Beliau adalah pembela Sunnah dan kehormatan salafus salih di jaman kita ini, siang dan malam, secara rahasia maupun terang-terangan yang tidak terpengaruh oleh celaan orang-orang yang suka mencela.
Karya-karya beliau
Syaikh Rabi’ memiliki sejumlah karya tulis -Alhamdulillah – beliau hafidzahullah telah membicarakan berbagai bab yang sangat dibutuhkan secara proporsional, terlebih khusus lagi dalam membantah para pelaku bid’ah dan para pengikut hawa nafsu di jaman yang penuh dengan para perusak namun sedikit orang yang berbuat ishlah (perbaikan, pent.) Diantara karya beliau :
1. Bainal Imamain Muslim wad Daruquthni, sejilid besar dan ini merupakan thesis beliau untuk meraih gelar master.
2. An-Nukat ‘ala Kitab Ibni Ash-Shalah, telah dicetak dalam dua juz dan ini merupakan disertasi program doktoral beliau.
3. Tahqiq Kitab Al- Madkhal ila Ash-Shahih lil Hakim, juz pertama telah dicetak.
4. Tahqiq Kitab At-Tawasul wal Wasilah lil Imam Ibni Taimiyyah, dalam satu jilid.
5. Manhajul Anbiya` fid Da’wah ilallah fihil Hikmah wal ‘Aql.
6. Manhaj Ahlis Sunnah fii Naqdir Rijal wal Kutub wat Thawaif.
7. Taqsimul Hadits ila Shahih wa Hasan wa Dla’if baina Waqi’il Muhadditsin wa Mughalithatil Muta’ashibin, sebuah bantahan terhadap ‘Abdul Fatah Abu Ghuddah dan Muhammad ‘Awamah.
8. Kasyfu Mauqifi Al-Ghazali minas Sunnah wa Ahliha.
9. Shaddu ‘Udwanil Mulhidin wa hukmul Isti’anah bi ghairil Muslimin.
10. Makanatu Ahlil Hadits.
11. Manhajul Imam Muslim fii Tartibi Shahihihi.
12. Ahlul Hadits Hum Ath-Thaifah Al-Manshurah An-Najiyah hiwar ma’a Salman Al-‘Audah
13. Mudzakarah fil Hadits An-Nabawi.
14. Adlwa` Islamiyyah ‘ala ‘Aqidah Sayyid Quthb wa Fikrihi.
15. Matha’inu Sayyid Quthb fii Ashhabi Rasulillahi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
16. Al-‘Awashim mimma fii Kutubi Sayyid Quthb minal Qawashim.
17. Al-Haddul Fashil bainal Haq wal Bathil hiwar ma’a Bakr Abi Zaid.
18. Mujazafaatul Hiddaad.
19. Al-Mahajjatul Baidla` fii Himaayatis Sunnah Al-Gharra`.
20. Jamaa’ah Waahidah Laa Jamaa’aat wa Shiraathun Wahidun Laa ‘Asyaraat, hiwar ma’a ‘Abdirrahman ‘Abdil Khaliq.
21. An-Nashrul Aziiz ‘ala Ar-Raddil Wajiiz.
22. At-Ta’ashshub Adz-Dzamim wa Aatsaruhu, yang dikumpulkan oleh Salim Al-‘Ajmi.
23. Bayaanul Fasaadil Mi’yar, Hiwar ma’a Hizbi Mustatir.
24. At-Tankiil bimaa fii Taudhihil Milyibaari minal Abaathiil.
25. Dahdlu Abaathiil Musa Ad-Duwaisy.
26. Izhaaqu Abaathiil ‘Abdil Lathif Basymiil.
27. Inqidladlusy Syihb As-Salafiyyah ‘ala Aukaar ‘Adnan Al-Khalafiyyah.
28. An-Nashihah Hiyal Mas`uliyyah Al-Musytarakah fil ‘Amal Ad-Da’wi, diterbitkan di majalah At-Tau’iyyah Al-Islamiyyah
29. Al-Kitab was Sunnah Atsaruhuma wa makaanatuhuma wadl Dlarurah ilaihima fii Iqaamatit Ta’liimi fii Madaarisinaa, artikel majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah, edisi 16.
30. Hukmul Islam fii man Sabba Rasulallah au Tha’ana fii Syumuli Risaalatihi, artikel koran Al-Qabas Al-Kuwaitiyyah edisi 8576 tahun 9/5/1997.
Syaikh Rabi’ memiliki karya tulis lain di luar apa yang telah disebutkan di sini. Kita memohon kepada Allah agar memberikan pertolongan-Nya untuk menyempurnakan usaha-usaha kebaikan yang beliau lakukan dan semoga Allah memberikan taufik kepada beliau kepada perkara-perkara yang dicintai dan diridlai-Nya, Dia-lah penolong semua itu dan maha mampu atasnya.
(Dinukil dari Mauqi’ Asy-Syaikh Rabi’ hafidzahullah dengan sedikit perubahan)
(Dikutip dari terjemah buku karya Syaikh Abu ‘Abdillah Khalid bin Dlahwi Adz-Dzufairi, edisi Bahasa Indonesia Mengenal Lebih Dekat Asy Syaikh Rabi’ Bin Haadi al Madkhali, Sosok Ulama Pembela Sunnah Nabi. Diterjemahkan Ummu Affan, penerbit Media Ahlus Sunnah, Purwokerto)
Sumber: http://www.salafy.or.id/print.php?id_artikel=100
Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah VIII
Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah VIII
Rabu, 17 Maret 2004 - 18:59:55 :: kategori Manhaj
Penulis: Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma'tsur
.: :.
BAB 17
Salafush Shalih Menilai Seseorang dengan Melihat Teman Dekatnya
148.Abu Qilabah berkata :
"Qaatalallahu ! Semoga Allah binasakan penyair yang mengucapkan syair :
Janganlah bertanya siapa dia tapi tanyakan siapa temannya
karena setiap orang akan meniru temannya
Saya (Jamal bin Furaihan, penyusun kitab lammud durril mantsur, red) katakan :"Ucapan Abu Qilabah (qatalallahu) ini adalah ungkapan yang menunjukkan kekagumannya dengan ba'it syair tersebut, dan ini adalah syairnya 'Ady bin Zaid Al-'Abadiy.Al-Ashma'iy berkata :"Saya belum pernah menemukan satu bait syair yang paling menyerupai As-Sunnah selain ucapan 'Ady ini.
149.Abu Hurairah berkata:
'Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda:
"(agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu." (As-Shahihah 927)
150.Ibnu Mas'ud berkata:
"Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman, karena seorang muslim akan mengikuti muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir lainnya." (Al-Ibanah 2/477 no 502, syarhussunnah Al-Baghawi 13/70)
151.Dan ia berkata:
"Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya." (Al-Ibanah 2/476 no 499).
152.Beliau melanjutkan:
"Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang itu tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (kerena seperti dia)."(Al-ibanah 2/477 no 501).
153.Abu Darda mengatakan:
"Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya". (Al-Ibanah 2/464 no 459-460).
154.Yahya bin Abi Katsir mengatakan:
"Jangan kamu menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya." (Al-Ibanah 2/480 no 514).
155.Musa bin 'Uqbah Ash-Shury tiba di Baghdad dan hal ini disampaikan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, lalu beliau berkata:
"Perhatikan di mana ia singgah dan kepada siapa ia berkunjung." (Al-Ibanah 2/480 no 511).
156.Qatadah berkata:
"sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia, maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka."(Al-Ibanah 2/477 no 511).
157.Syu'bah berkata:
"Aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan): bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai." (Al-Ibanah 2/477 no 500).
158.Al-Auza'iy berkata:
"Siapa yang menyembunyikan bid'ahnya dari kita tidak akan dapat menyembunyikan persahabatannya." (Al-Ibanah 2/476 no 498).
159.Al-A'masy mengatakan:
"Biasanya salafus shalih tidak menanyakan (keadaaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya dan teman-temannya".(Al-Ibanah 2/476 no 498).
160.Ayyub As-Sikhtiyani diundang untuk memandikan jenasah kemudian beliau berangkat bersama beberapa orang. Ketika penutup wajah jenazah itu disingkapkan beliau segera mengenalinya dan berkata :
"kemarilah -kepada- temanmu ini, saya tidak akan memandikannya karena saya pernah melihatnya berjalan dengan seorang ahli bid'ah."(Al-ibanah 2/478 no 503).
161.Abdullah bin Mas'ud berkata:
"Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman." (Al-Ibanah 2/479 no 509-510)
162.Muhammad bin Abdullah Al-Ghalabiy mengatakan:
"Ahli bid'ah itu menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan persahabatan (di antara mereka)".(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).
163.Mu'adz bin Mu'adz berkata kepada Yahya bin Sa'id:
"Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya, tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya."
164.'Amru bin Qais Al-Mula-iy berkata:
"Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama'ah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid'ah berputus asalah kamu dari (mengharap kebaikannya). Karena pemuda itu bergantung diatas apa pertama kali ia tumbuh dan dibentuk".(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).
165.Ia -juga- mengatakan:
"Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang, maka jika ia lebih mementingkan duduk dengan ahli ilmu ia akan selamat, dan jika ia condong kepada yang lain ia akan celaka."
166.Ibnu 'Aun mengatakan :
"Siapa pun yang duduk dengan Ahli Bid'ah ia lebih berbahaya bagi kami dibanding ahli bid'ah itu sendiri."(Al-ibanah 2/453 no 421).
167.Ketika Sufyan Ats-Tsauri datang ke Basrah melihat keadaan Ar-Rabi bin Shabiih dan kedudukannya di tengah umat, Yahya bin Sa'id Al-Qaththan berkata :
"Ia bertanya apa madzhabnya?" Mereka menjawab bahwa madzhabnya tidak lain adalah As-Sunnah, Ia berkata lagi :"Siapa teman baiknya ?" mereka menjawab :"Qadary." Beliau berkata :"berarti ia seorang Qodary".(Al-Ibanah 2/453 no 421).
Ibnu Baththah berkata, "semoga Allah merahmati sufyan Ats-Tsauri, ia sungguh berbicara dengan al-hikmah maka alangkah tepat ucapannya itu dan ia juga telah berkata ilmu yang sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah serta apa-apa yang sesuai dengan himah, realita dan pemahaman ahli bashirah, Allah berfirman (yang artinya):"Ahai orang-orang yang beriman jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu, (sebab) mereka senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu."(Ali Imran 118)
168.Imam Abu Daud As-Sijistaniy berkata:
"Saya berkata kepada Imam Abdullah Ahmad bin Hanbal (jika) saya melihat seorang sunniy bersama ahli bid'ah, apakah saya tinggalkan ucapannya ?" Beliau menjawab : "Tidak, sebelum kamu terangkan kepadanya bahwa orang yang kamu lihat bersamanya itu adalah ahlu bid'ah. Maka jika ia menjauhinya, tetaplah bicara dengannya dan jika tidak mau gabungkan saja dengannya (anggap saja ahlu bid'ah). Ibnu mas'ud pernah berkata : 'Seseorang itu (dinilai) siapa teman dekatnya'". (Thabaqat Hanabilah 1/160 no 216).
169.Ibnu Taymiyah mengatakan :
"Dan siapa yang selalu berprasangka baik terhadap mereka (ahli bid'ah) -dan mengaku belum mengetahui keadaan mereka - kenalkanlah ahli bi'dah itu padanya maka jika ia telah mengenalnya namun tidak menampakkan penolakan terhadap mereka, gabungkanlah ia bersama mereka dan anggaplah ia dari kalangan mereka juga."(Al-Majmu' 2/133).
170.'Utbah Al-ghulam berkata :
"Barangsiapa yang tidak bersama kami maka dia adalah lawan kami" (Al-Ibanah 2/437 no 487).
171.Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda :
"Ruh-ruh itu adalah juga sepasukan tentara yang akan saling mengenal akan bergabung dan yang tidak mengenal akan berselisih."(HSR. Bukhary 3158 dan muslim 2638).
172.Al-Fudhail bin Iyyadl mengomentari hadits ini dengan berkata :
"Tidak mungkin seorang sunniy akan berbasa-basi kepada ahli bid'ah kecuali jika ia dari kalangan munafiq".(lihat Ar Rad'alal mubtadi'ah li Ibni Al-banna).
173.Ibnu Mas'ud berkata :
"Jika seorang mu'min memasuki mesjid yang di dalamnya berkumpul 100 orang dan yang muslim hanya satu ia akan masuk ke dalamnya lalu duduk didekatnya, dan jika seorang munafiq memasuki mesjid yang didalamnya berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang munafiq juga, ia akan tetap masuk dan duduk di dekatnya".
174.Hammad bin Zaid mengatakan :
"Yunus berkata kepadaku :"Hai Hammad, sesungguhnya jika saya melihat seorang pemuda berada di atas perkara yang mungkar saya tetap tidak akan berputus asa mengharapkan kebaikannnya, kecuali bila saya melihatnya duduk bersama ahli bid'ah maka ketika itu saya tahu kalau dia binasa".(Al-Kifayah 91, Syarh 'Ilal At-Tirmidzi).
175.Ahmad bin Hanbal berkata :
"Jika kamu melihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama'ah maka harapkanlah (kebaikannya) dan jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli bid'ah maka berputusasalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena sesungguhnya pemuda itu tergantung di atas apa ia pertama kali tumbuh".(Al-Adabus Syari'ah Ibnu Muflih 3/77).
176.Dlamrah bin Rabi'ah berkata (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al-Khurasaniy berkata :
"Sesungguhnya diantara kenikmatan yang Allah berikan kepada pemuda ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang ahli sunnah. Dan ia akan bergabung bersamanya di atas As-Sunnah".(Al-Ibanah 1/205 no 43, dan Ash-Shugra 133 no 91, dan Al-Lalikai 1/60 no 31).
177.Dari Abdullah bin Syaudzab dari Ayyub ia berkata:
"Termasuk kenikmatan bagi seorang pemuda dan orang-orang non 'Arab ialah jika Allah menurunkan taufiq kepada mereka untuk mengikuti orang yang berlimu di kalangan Ahlus Sunnah."(Al-Lalikai no 30).
(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma'tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. Diambil dari www.assunnah.cjb.net.)
Rabu, 17 Maret 2004 - 18:59:55 :: kategori Manhaj
Penulis: Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma'tsur
.: :.
BAB 17
Salafush Shalih Menilai Seseorang dengan Melihat Teman Dekatnya
148.Abu Qilabah berkata :
"Qaatalallahu ! Semoga Allah binasakan penyair yang mengucapkan syair :
Janganlah bertanya siapa dia tapi tanyakan siapa temannya
karena setiap orang akan meniru temannya
Saya (Jamal bin Furaihan, penyusun kitab lammud durril mantsur, red) katakan :"Ucapan Abu Qilabah (qatalallahu) ini adalah ungkapan yang menunjukkan kekagumannya dengan ba'it syair tersebut, dan ini adalah syairnya 'Ady bin Zaid Al-'Abadiy.Al-Ashma'iy berkata :"Saya belum pernah menemukan satu bait syair yang paling menyerupai As-Sunnah selain ucapan 'Ady ini.
149.Abu Hurairah berkata:
'Rasulullah Shallallahu'alaihi wa Sallam bersabda:
"(agama) seseorang (dikenal) dari agama temannya, maka perhatikanlah siapa temanmu." (As-Shahihah 927)
150.Ibnu Mas'ud berkata:
"Nilailah seseorang itu dengan siapa ia berteman, karena seorang muslim akan mengikuti muslim yang lain dan seorang fajir akan mengikuti orang fajir lainnya." (Al-Ibanah 2/477 no 502, syarhussunnah Al-Baghawi 13/70)
151.Dan ia berkata:
"Seseorang itu akan berjalan dan berteman dengan orang yang dicintainya dan mempunyai sifat seperti dirinya." (Al-Ibanah 2/476 no 499).
152.Beliau melanjutkan:
"Nilailah seseorang itu dengan temannya sebab sesungguhnya seseorang itu tidak akan berteman kecuali dengan orang yang mengagumkannya (kerena seperti dia)."(Al-ibanah 2/477 no 501).
153.Abu Darda mengatakan:
"Tanda keilmuan seseorang (dilihat) dari jalan yang ditempuhnya, tempat masuknya, dan majelisnya". (Al-Ibanah 2/464 no 459-460).
154.Yahya bin Abi Katsir mengatakan:
"Jangan kamu menetapkan penilaian terhadap seseorang sampai kamu memperhatikan siapa yang menjadi temannya." (Al-Ibanah 2/480 no 514).
155.Musa bin 'Uqbah Ash-Shury tiba di Baghdad dan hal ini disampaikan kepada Imam Ahmad bin Hanbal, lalu beliau berkata:
"Perhatikan di mana ia singgah dan kepada siapa ia berkunjung." (Al-Ibanah 2/480 no 511).
156.Qatadah berkata:
"sesungguhnya kami, demi Allah belum pernah melihat seseorang seseorang menjadikan teman buat dirinya kecuali yang memang menyerupai dia, maka bertemanlah dengan orang-orang yang shalih dari hamba-hamba Allah agar kamu digolongkan dengan mereka atau menjadi seperti mereka."(Al-Ibanah 2/477 no 511).
157.Syu'bah berkata:
"Aku dapati tulisan dalam catatanku (menyatakan): bahwasanya seseorang akan berteman dengan orang yang ia sukai." (Al-Ibanah 2/477 no 500).
158.Al-Auza'iy berkata:
"Siapa yang menyembunyikan bid'ahnya dari kita tidak akan dapat menyembunyikan persahabatannya." (Al-Ibanah 2/476 no 498).
159.Al-A'masy mengatakan:
"Biasanya salafus shalih tidak menanyakan (keadaaan) seseorang sesudah (mengetahui) tiga hal yaitu jalannya, tempat masuknya dan teman-temannya".(Al-Ibanah 2/476 no 498).
160.Ayyub As-Sikhtiyani diundang untuk memandikan jenasah kemudian beliau berangkat bersama beberapa orang. Ketika penutup wajah jenazah itu disingkapkan beliau segera mengenalinya dan berkata :
"kemarilah -kepada- temanmu ini, saya tidak akan memandikannya karena saya pernah melihatnya berjalan dengan seorang ahli bid'ah."(Al-ibanah 2/478 no 503).
161.Abdullah bin Mas'ud berkata:
"Nilailah tanah ini dengan nama-namanya dan nilailah seorang teman dengan siapa ia berteman." (Al-Ibanah 2/479 no 509-510)
162.Muhammad bin Abdullah Al-Ghalabiy mengatakan:
"Ahli bid'ah itu menyembunyikan segala sesuatu kecuali persatuan dan persahabatan (di antara mereka)".(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).
163.Mu'adz bin Mu'adz berkata kepada Yahya bin Sa'id:
"Hai Abu Yahya, seseorang walapun dia menyembunyikan pemikirannya tidak akan tersembunyi hal itu pada anaknya, tidak pula pada teman-temannya atau teman duduknya."
164.'Amru bin Qais Al-Mula-iy berkata:
"Jika kamu lihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama'ah harapkanlah dia dan bila ia tumbuh bersama ahli bid'ah berputus asalah kamu dari (mengharap kebaikannya). Karena pemuda itu bergantung diatas apa pertama kali ia tumbuh dan dibentuk".(Al-Ibanah 1/205 no 44 dan 2/482 no 518).
165.Ia -juga- mengatakan:
"Seorang pemuda itu benar-benar akan berkembang, maka jika ia lebih mementingkan duduk dengan ahli ilmu ia akan selamat, dan jika ia condong kepada yang lain ia akan celaka."
166.Ibnu 'Aun mengatakan :
"Siapa pun yang duduk dengan Ahli Bid'ah ia lebih berbahaya bagi kami dibanding ahli bid'ah itu sendiri."(Al-ibanah 2/453 no 421).
167.Ketika Sufyan Ats-Tsauri datang ke Basrah melihat keadaan Ar-Rabi bin Shabiih dan kedudukannya di tengah umat, Yahya bin Sa'id Al-Qaththan berkata :
"Ia bertanya apa madzhabnya?" Mereka menjawab bahwa madzhabnya tidak lain adalah As-Sunnah, Ia berkata lagi :"Siapa teman baiknya ?" mereka menjawab :"Qadary." Beliau berkata :"berarti ia seorang Qodary".(Al-Ibanah 2/453 no 421).
Ibnu Baththah berkata, "semoga Allah merahmati sufyan Ats-Tsauri, ia sungguh berbicara dengan al-hikmah maka alangkah tepat ucapannya itu dan ia juga telah berkata ilmu yang sesuai dengan Al-Quran dan Assunnah serta apa-apa yang sesuai dengan himah, realita dan pemahaman ahli bashirah, Allah berfirman (yang artinya):"Ahai orang-orang yang beriman jangan kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang bukan golonganmu, (sebab) mereka senantiasa menimbulkan bahaya bagi kamu dan mereka senang dengan apa yang menyusahkanmu."(Ali Imran 118)
168.Imam Abu Daud As-Sijistaniy berkata:
"Saya berkata kepada Imam Abdullah Ahmad bin Hanbal (jika) saya melihat seorang sunniy bersama ahli bid'ah, apakah saya tinggalkan ucapannya ?" Beliau menjawab : "Tidak, sebelum kamu terangkan kepadanya bahwa orang yang kamu lihat bersamanya itu adalah ahlu bid'ah. Maka jika ia menjauhinya, tetaplah bicara dengannya dan jika tidak mau gabungkan saja dengannya (anggap saja ahlu bid'ah). Ibnu mas'ud pernah berkata : 'Seseorang itu (dinilai) siapa teman dekatnya'". (Thabaqat Hanabilah 1/160 no 216).
169.Ibnu Taymiyah mengatakan :
"Dan siapa yang selalu berprasangka baik terhadap mereka (ahli bid'ah) -dan mengaku belum mengetahui keadaan mereka - kenalkanlah ahli bi'dah itu padanya maka jika ia telah mengenalnya namun tidak menampakkan penolakan terhadap mereka, gabungkanlah ia bersama mereka dan anggaplah ia dari kalangan mereka juga."(Al-Majmu' 2/133).
170.'Utbah Al-ghulam berkata :
"Barangsiapa yang tidak bersama kami maka dia adalah lawan kami" (Al-Ibanah 2/437 no 487).
171.Rasulullah Shallallahu Alaihi wa sallam bersabda :
"Ruh-ruh itu adalah juga sepasukan tentara yang akan saling mengenal akan bergabung dan yang tidak mengenal akan berselisih."(HSR. Bukhary 3158 dan muslim 2638).
172.Al-Fudhail bin Iyyadl mengomentari hadits ini dengan berkata :
"Tidak mungkin seorang sunniy akan berbasa-basi kepada ahli bid'ah kecuali jika ia dari kalangan munafiq".(lihat Ar Rad'alal mubtadi'ah li Ibni Al-banna).
173.Ibnu Mas'ud berkata :
"Jika seorang mu'min memasuki mesjid yang di dalamnya berkumpul 100 orang dan yang muslim hanya satu ia akan masuk ke dalamnya lalu duduk didekatnya, dan jika seorang munafiq memasuki mesjid yang didalamnya berkumpul 100 orang dan hanya terdapat satu orang munafiq juga, ia akan tetap masuk dan duduk di dekatnya".
174.Hammad bin Zaid mengatakan :
"Yunus berkata kepadaku :"Hai Hammad, sesungguhnya jika saya melihat seorang pemuda berada di atas perkara yang mungkar saya tetap tidak akan berputus asa mengharapkan kebaikannnya, kecuali bila saya melihatnya duduk bersama ahli bid'ah maka ketika itu saya tahu kalau dia binasa".(Al-Kifayah 91, Syarh 'Ilal At-Tirmidzi).
175.Ahmad bin Hanbal berkata :
"Jika kamu melihat seorang pemuda tumbuh bersama ahli sunnah wal jama'ah maka harapkanlah (kebaikannya) dan jika kamu lihat dia tumbuh bersama ahli bid'ah maka berputusasalah kamu dari (mengharap kebaikan)nya. Karena sesungguhnya pemuda itu tergantung di atas apa ia pertama kali tumbuh".(Al-Adabus Syari'ah Ibnu Muflih 3/77).
176.Dlamrah bin Rabi'ah berkata (saya mendengar) dari Ibnu Syaudzab Al-Khurasaniy berkata :
"Sesungguhnya diantara kenikmatan yang Allah berikan kepada pemuda ialah ketika ia beribadah dan bersaudara dengan seorang ahli sunnah. Dan ia akan bergabung bersamanya di atas As-Sunnah".(Al-Ibanah 1/205 no 43, dan Ash-Shugra 133 no 91, dan Al-Lalikai 1/60 no 31).
177.Dari Abdullah bin Syaudzab dari Ayyub ia berkata:
"Termasuk kenikmatan bagi seorang pemuda dan orang-orang non 'Arab ialah jika Allah menurunkan taufiq kepada mereka untuk mengikuti orang yang berlimu di kalangan Ahlus Sunnah."(Al-Lalikai no 30).
(Sumber : Kilauan Mutiara Hikmah Dari Nasihat Salaful Ummah, terjemah dari kitab Lamudduril Mantsur minal Qaulil Ma'tsur, karya Syaikh Abu Abdillah Jamal bin Furaihan Al Haritsi. Diterjemahkan oleh Ustadz Idral Harits. Diambil dari www.assunnah.cjb.net.)
IMAM BUKHARI
IMAM BUKHARI
September 20, 2007 oleh 4bu4isyah
Nasab dan Kelahiran Beliau
beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Ja’fi Al Bukhari -rahimahullah- . Lahir pada bulan Syawwal tahun 194 H.
Guru-guru Beliau
Beliau banyak melakukan perjalanan dalam mencari hadits (ilmu) ke seluruh penjuru dunia. Beliau belajar hadits di Khurasan, Al Jibal, Iraq, Hijaz, Syam, Mesir dan lainnya. Diantara guru-gurunya adalah : Makki bin Ibrahim, Abdan bin Utsaman Al Muruzi, Abu ‘Ashim Asy Syaibani, Muhammad bin Abdulloh Al Anshori, Muhammad bin Yusuf, Abu Walid Ath Thayalisi, ABdulloh bin Maslamah Al Qa’nabi, Abu Bakar Al Humaidi, Abdullah bin Yusuf, Abul Yaman,Ismail bin abu uwais, Muhammad bin Katsir, Khalid Al Mukhalid, Ali Ibnu Al Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in dan masih banyak lagi -rahimakumullah-
Beliau sering pergi ke baghdad dan mengajarkan hadits disana.
Ibadah dan Muamalah Beliau
Bakar Abu Said berkata,” Ada seseorang yang membawakan barang dagangan kepada Muhammad bin Ismail (Al Bukhori), dan setelah Isya’ berkumpullah beberapa pedagang untuk mengambil dagangan tersebut dengan memberi untuk 5000 dirham. Beliau menyetujui dan berkata kepada merka,” Pulanglah kalian malam ini,” Pagi harinya datang para pedagang lain yang ingin mengambil dagangan tersbut dengan memberikan keuntungan 10000 dirham, namun beliau menolaknya dan berkata,”Saya sudah meniatkan untuk memberikan barang dagangan ini kepada para pedagang yang telah datang tadi malam, dan saya tidak senang membatalkan niat saya.”
Bakar Abu Said juga berkata,” Pada suatu hari Muhammad bin Ismail merasa terganggu ketika sedang sholat. Selesai sholat dia berkata kepada para sahabatnya,” Lihatlah ini ! apa yang menggangguku di waktu sedang sholat.!”,Maka mereka melihatnya, ternyata lalat penyengat telah menyengat sebanyak 17 tempat, akan tetapi dia tidak memutuskan sholatnya. Tatkala para sahabatnya menanyakan mengapa tidak memutuskan sholat sejak awal, dia menjawab,” Karena saya sedang sholat, saya lebih suka untuk menyempurnakannya.”
Nasj bin Said berkata,” Ketika awal malam bulan ramadhan, para sahabat Al Bukhori berkumpul bersamanya. Beliau sholat bersama mereka dengan membaca 20 ayat setiap rakaat. Setiap waktu sahur beliau membaca Al Qur’an lebih dari sepertiganya, dan menghatamkannya selama 3 hari juga pada waktu sahur. Jika pda waktu tersebut beliau tidak menghatamkan, maka beliau sempurnakan/selesaikan pada waktu iftar (bebuka puasa) sambil berdoa.”
Muhammad bin Yusuf berkata,” Pada suatu malam saya bersama Muhammad bin Ismail Al Bukhori di rumahnya. Saya menghitung dia bangun untuk menyalakan lampu lalu mudzakarah (menelaah) sesuatu ampai 18 kali, dan pada waktu sahur beliau melakukan sholat lain 13 rakaat dengan witir 1 rakaat.”
Pujian Ulama kepadanya
Muhammad bin Abu Hatim mendengar Imam Al Bukhori berkata,” Tatkala masuk ke kota Bashrah, saya bermajelis dengan Muhammad bin Basyar, ketika keluar majelis, dia melihatku. Dia bertanya kepadaku,”Darimana kamu wahai pemuda?”, Maka akupun menjawab,” dari penduduk Bukhara.”. Bagaimana kamu justru meninggalkan Abu Abdillah Al Bukhori dan tidak belajar kepadanya?,” keluhnya. Maka para Sahabat Muhammad bin Basyar berkata kepadanya,”Semoga engkau merahmati engkau. Dialah Abu Abdillah (Al Bukhori ) itu.” lantas Muhammad bin Basyar memegang tanganku dan memelukku. Kemudian beliau berkata,” Selamat atas kedatangan orang yang besar lagi mulai yang telah kami tunggu sejak dua tahun lalu.”
Muhammad bin Ishaq berkata,” Saya tidak melihat dibawah kolong langit ini yang lebih alim tentang hadits daripada Muhammad bin Ismail Abu Abdillah.”
Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al Ja’fi berkata,” Muhammad bin Ismail dalah seorang imam. maka barangsiapa yang tidak menjadikannya sebagai imam, maka ia pantas untuk dicurigai.”
Kedalaman Ilmu Haditsnya
Para ulama dari berbagai negeri seperti Bashrah, Syam, Hjaz, dan Kufah menaruh hormat kepada Al bukhori.
Pernah Imam Al Bukhori datang ke baghdad, dan kedatangannya didengar oleh para Ulama Ahlul Hadits, mereka berkumpul dan bersepakat untuk menguji Imam Bukhori dengan 100 hadits. Mereka membolak-balik matan (isi hadits) dan sanad (para periwayat hadits)nya. dan menyerahkan hadits yang sudah dibolak bailk tersebut kepada 10 orang, sehingga setiap orang mendapat jatah 10 hadits. Ketika hari yang sudah ditentukan untuk bermajelis telah tiba, datanglah para Ahli hadits baik dari Maghrib, Khurasan, Baghdad dan tempat lainnya. tatkala suasana majelis sudah nampak tenang, mulailah salah seorang dari 10 orang tadi menyampaikan hadits yang telah dibolak balikkan itu, dan setiap selesai membacakan satu hadits dia bertanya kepada Imam Al Bukhori tentag hadits tersebut, maka Imam Al Bukhori menjawab,” Aku tidak tahu tentang hadits tersebut.” lalu dibacakanlah lagi hadits berikutnya dan ditanyakan lagi kepadanya. Dia menjawab lagi “Tidak tahu.” demikian sampai 10 hadits. para Ahli hadits yang hadir di majelis saling berpandangan satu sama lain dan berkata,” Jawaban al Bukhori itu menunjukkan dia orang yang lemah dan sedikit hafalan serta pemahamannya.” lalu mulailah orang kedua, ketiga, kempat sampai selesai 10 orang yang membacakan semua hadits yang dibolak balik tadi sehingga mencapai 100 hadits. dan setiap ditanya tentang hadits yang dibacakan kepadanya, Imam bukhori tetap menjawab,” Saya tidak tahu hadits tersebut.” Tidak lebih dari itu. Ketika Imam Bukhori mengetahui pembacaan hadits-hadits tersebut telah selesai, maka beliau menghadap kepada orang orang pertama yang membacakan hadits tadi dan berkata,” Adapun haditsmu yang pertama seperti itu maka yang benar begini, haditsmu yang kedua begitu, maka yang benar begini dan seterusnya sampai 10 hadits. Beliau mengembalikan matan dan sanad hadits yang telah dibolak balik sebagaimana semula. demikianlah yang diperbuat Imam Al Bukhori kepada 10 orang tersebut. Hingga manusia menetapkan kuatnya hafalan Imam Al Bukhori dan keutamaannya.
Majelis Imam Al Bukhori
Abu Ali Shalih bin Muhammad Al Bagdadi berkata bahwa ketika Muhammad bin Ismail menyampaikan hadits-haditsnya beberapa kali di baghdad, yang hadir pada setiap majelisnya lebih dari 20.000 orang. Perkataan serupa juga disampaikan Muhammad bin Yusuf.
Al Bukhori berkunjung ke Bashrah, dan berada di dalam Masjid jami’, tatkala ada orang yang mengetahuinya, maka dia umumkan kedatangannya kepada penduduk Bashrah, mereka meminta kepadanya untuk membuah sebuah majelis ilmu. maka berkumpullah para penuntut ilmu termasuk orang-orang tua, para ahli fiqih, ahli hadits para huffazh hingga berjumlah ribuan orang, sehingga keluar ungkapan,” Telah hadir pada hari ini Sayyidul fuqoha’ (penghulu para ahli fiqih).
Hikmah
Abu Sa’id Bakar bin Munir berkata bahwa Al Amir (penguasa) Khalid bin AHmad Adz Dzuhli mengirim utusan ke Bukhara kepada Muhammad bin Ismail agar mengajarkan kitab jami’, At tarikh dan seterusnya (secara privat), Maka Muhammad bin Ismail berkata kepada utusan tersebut,”Sesungguhnya kami tidak merendahkan ilmu, dan tidak mengajarkan kerumah-rumah. Jika engkau membutuhkan ilmu tersebut maka datanglah ke masjid saya atau rumah saya, jika tidak, engkau dalah penguasa, mampu melarang saya untuk bermajelis, sehingga saya memiliki udzur di hadapan Alloh Azza wa Jalla pada hari kiamat. Karena saya tidak akan menyembunyikan ilmu, sebab Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lantas dia menyembunyikannya maka dia akan dikekang dengan tali kekang dari neraka.”
Imam Bukhori berkata,” gerakan, suuara dan tulisan mereka adalah makhluq, adapaun Al Qur’an yang dibaca, yang tetap dalam mushaf yang tertulis dan yang terjaga (dihafal) dalam hati, maka itu adalah kalam Allah dan bukan makhluq, Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Sebenarnya, Al Qur’an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang berilmu,” [QS Al Ankabut 49]
Ibrahim bin Muhammad setelah penyelenggaraan jenazah Muhammad bin ismail berkata bahwa Shahibul Qishar kemarin bertanya kepada Muhammad bin Ismail,” Wahai Abu Abdillah, apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an?’ Beliau menjawab,” Al Quran adalah kalamulloh bukan makhluq” Kemudian aku (Ibrahim bin Muhammad ) berkata,” Manusia menyangka engkau mengatakan apa-apa yang terdapat dalam mushaf itu bukan Al Qur’an ! dan ayat-ayat yang berada di dalam dada-dada manusia juga bukan Al Qur’an.” Maka beliau menjawab,” Astaghfirrullah, engkau bersaksi terhadap sesuatu yang tidak kau dengar dariku. Maka aku katakan sebagaiman firman Alloh Azza wa Jalla ,” Demi Thur dan demi kitab yang tertulis.” [QS Ath Thur 1-2]
Wafat beliau
Abdul Wahin bin Adam berkata,” Saya melihat Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam didalam mimpi bersama para sahabatnya. beliau berhenti/berdiri pada suatu tempat. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan beliaupun menjawab salamnya. Aku bertanya,” Mengapa berhenti disini wahai Rosululloh?.” Beliau menjawab,” Aku menunggu Muhammad bin Ismail Al Bukhori.” , Setelah beberapa hari maka datanglah kabar tentang kematian Imam Al Bukhari, dan tatkala saya perhatikan waktu kematian beliau, ternyata tepat saat aku bermimpi bertemu dengan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam .
Abul Hasan bin Salim berkata,” Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari meninggal pada malam sabtu malam idul fitri tahun 256 H.”
Yahya bin Ja’far berkata,” Seandainya saya mampu untuk menambah usia Muhammad bin Ismail Al Bukhori, maka akan saya lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang biasa, namun kematian Al Bukhori adalah hilangnya ilmu.”
maraji:
Tarikh Al Baghdad, karya Al Khatib Al baghdadi
Siyar A’lam An Nubala kaya Imam Adz Dzahabi
ditulis kembali dari Al Fatawa vol 06/thII/1425 H
Sumber : al-aisar.com
September 20, 2007 oleh 4bu4isyah
Nasab dan Kelahiran Beliau
beliau adalah Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al Mughirah bin Bardizbah Al Ja’fi Al Bukhari -rahimahullah- . Lahir pada bulan Syawwal tahun 194 H.
Guru-guru Beliau
Beliau banyak melakukan perjalanan dalam mencari hadits (ilmu) ke seluruh penjuru dunia. Beliau belajar hadits di Khurasan, Al Jibal, Iraq, Hijaz, Syam, Mesir dan lainnya. Diantara guru-gurunya adalah : Makki bin Ibrahim, Abdan bin Utsaman Al Muruzi, Abu ‘Ashim Asy Syaibani, Muhammad bin Abdulloh Al Anshori, Muhammad bin Yusuf, Abu Walid Ath Thayalisi, ABdulloh bin Maslamah Al Qa’nabi, Abu Bakar Al Humaidi, Abdullah bin Yusuf, Abul Yaman,Ismail bin abu uwais, Muhammad bin Katsir, Khalid Al Mukhalid, Ali Ibnu Al Madini, Ahmad bin Hanbal, Yahya bin Ma’in dan masih banyak lagi -rahimakumullah-
Beliau sering pergi ke baghdad dan mengajarkan hadits disana.
Ibadah dan Muamalah Beliau
Bakar Abu Said berkata,” Ada seseorang yang membawakan barang dagangan kepada Muhammad bin Ismail (Al Bukhori), dan setelah Isya’ berkumpullah beberapa pedagang untuk mengambil dagangan tersebut dengan memberi untuk 5000 dirham. Beliau menyetujui dan berkata kepada merka,” Pulanglah kalian malam ini,” Pagi harinya datang para pedagang lain yang ingin mengambil dagangan tersbut dengan memberikan keuntungan 10000 dirham, namun beliau menolaknya dan berkata,”Saya sudah meniatkan untuk memberikan barang dagangan ini kepada para pedagang yang telah datang tadi malam, dan saya tidak senang membatalkan niat saya.”
Bakar Abu Said juga berkata,” Pada suatu hari Muhammad bin Ismail merasa terganggu ketika sedang sholat. Selesai sholat dia berkata kepada para sahabatnya,” Lihatlah ini ! apa yang menggangguku di waktu sedang sholat.!”,Maka mereka melihatnya, ternyata lalat penyengat telah menyengat sebanyak 17 tempat, akan tetapi dia tidak memutuskan sholatnya. Tatkala para sahabatnya menanyakan mengapa tidak memutuskan sholat sejak awal, dia menjawab,” Karena saya sedang sholat, saya lebih suka untuk menyempurnakannya.”
Nasj bin Said berkata,” Ketika awal malam bulan ramadhan, para sahabat Al Bukhori berkumpul bersamanya. Beliau sholat bersama mereka dengan membaca 20 ayat setiap rakaat. Setiap waktu sahur beliau membaca Al Qur’an lebih dari sepertiganya, dan menghatamkannya selama 3 hari juga pada waktu sahur. Jika pda waktu tersebut beliau tidak menghatamkan, maka beliau sempurnakan/selesaikan pada waktu iftar (bebuka puasa) sambil berdoa.”
Muhammad bin Yusuf berkata,” Pada suatu malam saya bersama Muhammad bin Ismail Al Bukhori di rumahnya. Saya menghitung dia bangun untuk menyalakan lampu lalu mudzakarah (menelaah) sesuatu ampai 18 kali, dan pada waktu sahur beliau melakukan sholat lain 13 rakaat dengan witir 1 rakaat.”
Pujian Ulama kepadanya
Muhammad bin Abu Hatim mendengar Imam Al Bukhori berkata,” Tatkala masuk ke kota Bashrah, saya bermajelis dengan Muhammad bin Basyar, ketika keluar majelis, dia melihatku. Dia bertanya kepadaku,”Darimana kamu wahai pemuda?”, Maka akupun menjawab,” dari penduduk Bukhara.”. Bagaimana kamu justru meninggalkan Abu Abdillah Al Bukhori dan tidak belajar kepadanya?,” keluhnya. Maka para Sahabat Muhammad bin Basyar berkata kepadanya,”Semoga engkau merahmati engkau. Dialah Abu Abdillah (Al Bukhori ) itu.” lantas Muhammad bin Basyar memegang tanganku dan memelukku. Kemudian beliau berkata,” Selamat atas kedatangan orang yang besar lagi mulai yang telah kami tunggu sejak dua tahun lalu.”
Muhammad bin Ishaq berkata,” Saya tidak melihat dibawah kolong langit ini yang lebih alim tentang hadits daripada Muhammad bin Ismail Abu Abdillah.”
Abu Ja’far Abdullah bin Muhammad Al Ja’fi berkata,” Muhammad bin Ismail dalah seorang imam. maka barangsiapa yang tidak menjadikannya sebagai imam, maka ia pantas untuk dicurigai.”
Kedalaman Ilmu Haditsnya
Para ulama dari berbagai negeri seperti Bashrah, Syam, Hjaz, dan Kufah menaruh hormat kepada Al bukhori.
Pernah Imam Al Bukhori datang ke baghdad, dan kedatangannya didengar oleh para Ulama Ahlul Hadits, mereka berkumpul dan bersepakat untuk menguji Imam Bukhori dengan 100 hadits. Mereka membolak-balik matan (isi hadits) dan sanad (para periwayat hadits)nya. dan menyerahkan hadits yang sudah dibolak bailk tersebut kepada 10 orang, sehingga setiap orang mendapat jatah 10 hadits. Ketika hari yang sudah ditentukan untuk bermajelis telah tiba, datanglah para Ahli hadits baik dari Maghrib, Khurasan, Baghdad dan tempat lainnya. tatkala suasana majelis sudah nampak tenang, mulailah salah seorang dari 10 orang tadi menyampaikan hadits yang telah dibolak balikkan itu, dan setiap selesai membacakan satu hadits dia bertanya kepada Imam Al Bukhori tentag hadits tersebut, maka Imam Al Bukhori menjawab,” Aku tidak tahu tentang hadits tersebut.” lalu dibacakanlah lagi hadits berikutnya dan ditanyakan lagi kepadanya. Dia menjawab lagi “Tidak tahu.” demikian sampai 10 hadits. para Ahli hadits yang hadir di majelis saling berpandangan satu sama lain dan berkata,” Jawaban al Bukhori itu menunjukkan dia orang yang lemah dan sedikit hafalan serta pemahamannya.” lalu mulailah orang kedua, ketiga, kempat sampai selesai 10 orang yang membacakan semua hadits yang dibolak balik tadi sehingga mencapai 100 hadits. dan setiap ditanya tentang hadits yang dibacakan kepadanya, Imam bukhori tetap menjawab,” Saya tidak tahu hadits tersebut.” Tidak lebih dari itu. Ketika Imam Bukhori mengetahui pembacaan hadits-hadits tersebut telah selesai, maka beliau menghadap kepada orang orang pertama yang membacakan hadits tadi dan berkata,” Adapun haditsmu yang pertama seperti itu maka yang benar begini, haditsmu yang kedua begitu, maka yang benar begini dan seterusnya sampai 10 hadits. Beliau mengembalikan matan dan sanad hadits yang telah dibolak balik sebagaimana semula. demikianlah yang diperbuat Imam Al Bukhori kepada 10 orang tersebut. Hingga manusia menetapkan kuatnya hafalan Imam Al Bukhori dan keutamaannya.
Majelis Imam Al Bukhori
Abu Ali Shalih bin Muhammad Al Bagdadi berkata bahwa ketika Muhammad bin Ismail menyampaikan hadits-haditsnya beberapa kali di baghdad, yang hadir pada setiap majelisnya lebih dari 20.000 orang. Perkataan serupa juga disampaikan Muhammad bin Yusuf.
Al Bukhori berkunjung ke Bashrah, dan berada di dalam Masjid jami’, tatkala ada orang yang mengetahuinya, maka dia umumkan kedatangannya kepada penduduk Bashrah, mereka meminta kepadanya untuk membuah sebuah majelis ilmu. maka berkumpullah para penuntut ilmu termasuk orang-orang tua, para ahli fiqih, ahli hadits para huffazh hingga berjumlah ribuan orang, sehingga keluar ungkapan,” Telah hadir pada hari ini Sayyidul fuqoha’ (penghulu para ahli fiqih).
Hikmah
Abu Sa’id Bakar bin Munir berkata bahwa Al Amir (penguasa) Khalid bin AHmad Adz Dzuhli mengirim utusan ke Bukhara kepada Muhammad bin Ismail agar mengajarkan kitab jami’, At tarikh dan seterusnya (secara privat), Maka Muhammad bin Ismail berkata kepada utusan tersebut,”Sesungguhnya kami tidak merendahkan ilmu, dan tidak mengajarkan kerumah-rumah. Jika engkau membutuhkan ilmu tersebut maka datanglah ke masjid saya atau rumah saya, jika tidak, engkau dalah penguasa, mampu melarang saya untuk bermajelis, sehingga saya memiliki udzur di hadapan Alloh Azza wa Jalla pada hari kiamat. Karena saya tidak akan menyembunyikan ilmu, sebab Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam bersabda,” barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu lantas dia menyembunyikannya maka dia akan dikekang dengan tali kekang dari neraka.”
Imam Bukhori berkata,” gerakan, suuara dan tulisan mereka adalah makhluq, adapaun Al Qur’an yang dibaca, yang tetap dalam mushaf yang tertulis dan yang terjaga (dihafal) dalam hati, maka itu adalah kalam Allah dan bukan makhluq, Alloh Azza wa Jalla berfirman,” Sebenarnya, Al Qur’an adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang berilmu,” [QS Al Ankabut 49]
Ibrahim bin Muhammad setelah penyelenggaraan jenazah Muhammad bin ismail berkata bahwa Shahibul Qishar kemarin bertanya kepada Muhammad bin Ismail,” Wahai Abu Abdillah, apa yang engkau katakan tentang Al Qur’an?’ Beliau menjawab,” Al Quran adalah kalamulloh bukan makhluq” Kemudian aku (Ibrahim bin Muhammad ) berkata,” Manusia menyangka engkau mengatakan apa-apa yang terdapat dalam mushaf itu bukan Al Qur’an ! dan ayat-ayat yang berada di dalam dada-dada manusia juga bukan Al Qur’an.” Maka beliau menjawab,” Astaghfirrullah, engkau bersaksi terhadap sesuatu yang tidak kau dengar dariku. Maka aku katakan sebagaiman firman Alloh Azza wa Jalla ,” Demi Thur dan demi kitab yang tertulis.” [QS Ath Thur 1-2]
Wafat beliau
Abdul Wahin bin Adam berkata,” Saya melihat Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam didalam mimpi bersama para sahabatnya. beliau berhenti/berdiri pada suatu tempat. Aku mengucapkan salam kepada beliau dan beliaupun menjawab salamnya. Aku bertanya,” Mengapa berhenti disini wahai Rosululloh?.” Beliau menjawab,” Aku menunggu Muhammad bin Ismail Al Bukhori.” , Setelah beberapa hari maka datanglah kabar tentang kematian Imam Al Bukhari, dan tatkala saya perhatikan waktu kematian beliau, ternyata tepat saat aku bermimpi bertemu dengan Rosululloh Sholallahu Alaihi Wassalam .
Abul Hasan bin Salim berkata,” Abu Abdillah Muhammad bin Ismail Al Bukhari meninggal pada malam sabtu malam idul fitri tahun 256 H.”
Yahya bin Ja’far berkata,” Seandainya saya mampu untuk menambah usia Muhammad bin Ismail Al Bukhori, maka akan saya lakukan. Karena kematianku adalah kematian seorang biasa, namun kematian Al Bukhori adalah hilangnya ilmu.”
maraji:
Tarikh Al Baghdad, karya Al Khatib Al baghdadi
Siyar A’lam An Nubala kaya Imam Adz Dzahabi
ditulis kembali dari Al Fatawa vol 06/thII/1425 H
Sumber : al-aisar.com
IMAM MALIK
IMAM MALIK
September 25, 2007 oleh 4bu4isyah
Islam adalah agama yang Allah Subhanallahuwata’ala ridhai. Di antara bentuk keridhaan-Nya adalah menjaga agama Islam ini dari kepunahan dan kerusakan. Satu di antara bentuk penjagaan itu adalah dengan memunculkan para ulama sebagai penerus dan pewaris Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam rangka menyampaikan risalah suci kepada manusia, membela dan mempertahankannya dari gangguan ‘tangan-tangan’ musuh islam dan muslimin, yang tidak senang dengan langgengnya kemurnian Islam. Baik dari orang-orang kafir, kaum munafik, ahli bid’ah atau siapa saja yang serupa dan mengikuti jejak mereka. Banyak sekali ulama Islam yang muncul setelah masa kenabian, dan salah satunya adalah yang ingin kami hadirkan kehadapan para pembaca guna mengambil pelajaran dan ibrah dari perjalanan hidupnya. Dia adalah salah satu dari empat imam dari generasi ketiga yang tentu tidak asing lagi di telinga kita.
NASAB DAN PERTUMBUHANNYA
Ia adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir Al-Ashbahi1 Al-Himyari2 Al-Madani3. Ibunya bernama ‘Aliyah binti Syuraik Al-Azdiyah.Imam Darul Hijrah adalah gelar yang disandangnya, dengan kun-yah Abu Abdillah.Ia terlahir di kota Madinah pada tahun 93 H4 (ada pula yang mengatakan 94 H). Tahun itu kaum muslimin berkabung karena wafatnya Anas bin Malik An-Najjari Al-Anshari Radhiyallahu’anhu. Tanda-tanda keluarbiasaannya telah tampak sejak ia berada dalam kandungan, karena tak seperti bayi yang lain, ia berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun.5 Pada masa pertumbuhannya, Malik bin Anas hidup dalam lingkungan yang terjaga, penuh suasana bahagia dan keindahan. Ia mulai menuntut ilmu pada usianya yang belia. Ketika masih berusia belasan tahun, beliau sudah menimba ilmu dari ulama generasi tabi’in yang masih ada saat itu6 seperti Nafi’ maula Ibnu Umar, Sa’id Al-Maqburi, ‘Amir bin Abdullah bin Az-Zubair bin al-‘Awwam, Muhammad bin Al-Munkadir, Az-Zuhri, Abdullah bin Dinar, Ayub As-Sikhtiyani, Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq, Humaid Ath-Thawil, Rabi’ah Ar-Ra’y, Zaid bin Aslam, Salamah bin Dinar, Shalih bin Kaisan, Abi Zinad Abdullah bin Dzakwan, ‘Atha’ Al-Khurasani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa’id Al-Anshari dan masih banyak lagi yang lainnya dari generasi tabi’in. Begitu pula ia mengambil ilmu dari teman-teman seangkatannya dari para atba’ tabi’in yang sama-sama menuntut ilmu. Sehingga bila dihitung jumlah semua orang yang pernah ia ambil ilmunya adalah sekitar 1400 orang. Begitu banyak guru yang mengajarnya, sehingga tidaklah mengherankan bila kemudian ia menjadi sosok seorang alim sejati yang pada usia dua puluh satu tahun sudah bisa berfatwa. Usia yang masih relatif muda untuk ukuran seorang alim pada zamannya. Bahkan ia menjadi seorang imam dalam bidang hadits di kota kelahirannya, Madinah, kota Nabi Shallallahu’alaihiwasallam; kota tempat kaum muslimin berhijrahpada awal perjuangan Islam. Karena itulah ia digelari Imam Darul Hijrah. Selain sebagai seorang ahli dalam bidang hadits, ia juga adalah seorang yang fakih di masanya. Ijtihad dan pendapat-pendapatnya kemudian dijadikan pegangan oleh banyak kaum muslimin dan dijadikan sebagai suatu mazhab yang dianut sampai saat ini.
ILMU IMAM MALIK
Karena keluasan ilmu hadits dan fikih yang dimilikinya, banyak orang yang duduk mengambil faedah dan berguru kepadanya. Bahkan diantara mereka turut menimba ilmu darinya guru-gurunya sendiri seperti pamannya sendiri Abu Suhail, yahya bin Abi Katsir, Az-Zuhri, Yahya bin Al-Had, Zaid bin Abi Unaisah, Umar bin Muhammad bin Zaid, dan lainnya. Banyak pula teman-teman sebayanya yang menimba ilmu darinya seperti Ma’mar, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, Al Auza’i, Syu’bah, Sufyan Ats Tsauri, Al Laits bin Sa’ad, Hammad bin Zaid, dan yang lainnya. Belum lagi murid-murid yang tingkatannya di bawah beliau seperti Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Al-Mubarak, Ad-darawardi, Ibnu Ulayyah, Muhammad bin Al-Hasan Al-Faqih7, Abdurrahman bin Mahdi, Abdullah bin Wahb, Waqi’, Yahya al-Qaththan, Abu Hudzafah8, dan salah satunya adalah imam yang masyhur di antara imam yang empat, yaitu Imam As-Syafi’i – rahimahullah- , serta masih banyak lagi yang lain yang datang dari berbagai penjuru negeri di masa khalifah Abu Ja’far Al Manshur, terlebih lagi pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid.
Imam An-Nasa’i berkata, “Aku tidak punya orang setelah generasi tabi’in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik.”
PUJIAN PARA ULAMA TERHADAPNYA
Pujian demi pujian terlayangkan kepadanya, baik dari para ulama sezamannya maupun yang dating setelahnya. Di antara pujian tersebut adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Uyainah tatkala menafsirkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu yang berbunyi,
“Nanti, akan keluar orang-orang dari arah timur dan barat demi menuntut ilmu, lalu mereka tidak menjumpai seorang pun yang lebih alim daripada alimnya kota Madinah.”
Ibnu Uyainah berkata, “Dahulu aku katakan yang dimaksud (dengan ‘alimnya kota Madinah’) dalam hadits tersebut adalah Sa’id bin Al-Musayyab, tetapi bukankah di zamannya masih ada Sulaiman bin Yassar, Salim bin Abdullah, dan yang lainnya? Maka sekarang saya katakan bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah Malik bin Anas, karena tidak ada alim lain yang menandinginya (saat itu).” Di lain waktu Ibnu Uyainah juga berkata, “Malik adalah alimnya penduduk Hijaz, dan ia adalah hujjah di zamannya.” Imam Asy-Safi’i menyambungnya seraya berkata, ”Hal itu benar, dan bila ulama disebut-sebut, maka Malik-lah bintangnya.” Imam An-Nasa’i berkata,”Aku tidak punya orang setelah generasi tabi’in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik.” Ibnu Hibban berkata, “Malik adalah orang yang pertama yang memilah-milah para perawi dari kalangan fuqaha di Madinah.” Yahya bin sa’id Al-Anshari, ketika ditunjuk oleh Amirul Mukminin Abu Ja’far Al-Manshur untuk menjadi qadhi, pernah meminta kepada Malik agar menuliskan untuknya seratus hadits ketika ia hendak pergi ke Irak. Dan Abu Ja’far sendiri sering bertanya kepadanya tentang halal dan haram, sampai suatu saat ia berkata kepada Malik, “Demi Allah. Engkau adalah orang yang paling pandai dan alim.” Malik menjawab, “Demi Allah, tidak demikian, wahai Amirul Mukminin”. Abu Ja’far berkata, “Betul! Hanya saja engkau menyembunyikannya.” Lalu kata Abu Ja’far lagi,”Demi Allah, sungguh saya akan menulis perkataanmu sebagaimana ditulisnya mushaf-mushaf (Al-Qur’an) demi kebaikan kita dan disebar ke berbagai pelosok negeri.” Meskipun banyak pujian yang terarah kepada beliau dari para ulama di zamannya, beliau tetap menunjukkan sikap tawaddhu (rendah hati) dan tidak ingin dilebih-lebihkan sebagaiman ungkapan beliau,”Tidaklah aku ini melainkan seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar. Karena itu, lihatlah pendapatku, apa saja yang sesuai Sunnah, maka ambillah.”
Pada suatu saat datanglah masa ujian dan cobaan bagi Imam Malik. Begini ceritanya. Abu Ja’far Al-Manshur pernah melarang Malik menyampaikan hadits: “Seorang yang dipaksa (mentalak istrinya), tidak jatuh talaknya” dan berfatwa tentangnya. Kemudian ada seseorang yang ingin ‘memancing di air keruh’ bertanya kepada Imam Malik perihal hadits tersebut. Sang Imam pun akhirnya menyampaikannya di hadapan khalayak, yang menunjukkan beliau tidak membenarkan talak orang yang dipaksa. Mendengar hal itu Abu Ja’far marah, lalu ia pun memerintahkan Ja’far bin Sulaiman, Gubernur Madinah saat itu, untuk mencambuk Malik. Maka dicambuklah beliau sebanyak 70 kali hingga lumpuh separuh kedua tangannya. Namun begitu Imam Malik tetap teguh dan bersabar. Beliau mengusap darah di punggungnya lalu masuk ke dalam masjid dan shalat. Setelah itu dia berkata,”Seperti inilah yang dilakukan oleh Sa’id bin Al-Musayyib ketika dahulu dicambuk. ”Demikianlah, ujian dan cobaan tidak dapat terlepas dari kehidupan setiap mukmin, apalagi seorang alim yang berjalan mengikuti jejak para nabi dan rasul.
KETEGUHANNYA DI ATAS SUNNAH DAN AQIDAH
Banyak kalimat dan atsar dari beliau yang menunjukkan beliau adalah seorang imam pembela aqidah dan sunnah, serta memerangi bid’ah dan para pelakunya. Di antaranya, beliau pernah berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan para pemimpin setelahnya (Khulafa’ Rasyidun) telah menetapkan sunnah-sunnah. Menjalankannya berarti mengikuti Kitabullah yang merupakan bentuk ketaatan sempurna kepada Allah dan keteguhan di atas agama-Nya. Siapa saja yang mengambilnya sebagai petunjuk, maka akan diberi petunjuk, dan siapapun yang mencari pertolongan dengannya, niscaya dia akan ditolong. Sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan jalan kaum mukminin (yakni para sahabat Nabi Shallallhu’alaihiwasallam) maka Allah akan memalingkannya kearah mana dia berpaling, lalu memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali –wal ‘iyadzu billah –“. Asy-Syafi’i menceritakan bahwa Imam Malik pernah didatangi oleh sebagian ahli bid’ah lalu beliau berkata, “Adapun aku, maka sungguh aku berada di atas petunjuk agamaku, adapun kamu pergilah kepada orang yang ragu sepertimu, “lalu beliau pun membantah mereka. Imam Malik pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk?” Beliau menjawab, “Dia itu seorang zindiq (kafir), maka bunuhlah.” Di lain waktu beliau mengatakan, “Al-Qur’an itu kalamullah. Kalamullah adalah bagian dari (Dzat dan sifat) Allah, dan tidak ada satupun dari (sifat dan dzat) Allah yang dikatakan makhluk.” Beliau juga pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, jawab beliau, :Saya berpendapat bahwa mereka harus diminta bertaubat, (maka diterima taubatnya), sedang jika tidak, maka dibunuh.” Pernah ada seseorang datang kepada Imam Malik membaca Firman Allah Subhanahu wata’ala:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Allah beristiwa’9 di atas ‘Arsy.(Q.S. Thaha:5)
Kemudian orang itu bertanya, “Bagaimana istiwa’ Allah itu?” Imam Malik marah sampai berkeringat dan mengetuk-ngetuk tongkatnya ke tanah seraya berkata, “istiwa’ itu sama diketahui maknanya (dalam bahasa Arab). Adapun hakekatnya, tidaklah diketahui. Mengimaninya wajib, dan bertanya ‘bagaimananya’ adalah bid’ah. Dan saya kira kamu ini seorang ahli bid’ah.” Beliau lalu meminta agar orang itu dikeluarkan dari majelisnya. Dalam riwayat lain beliau menjawab, “Allah ber-istiwa’ sebagaimana yang Ia sifati sendiri untuk diri-Nya, tidak boleh ditanya bagaimananya.” Beliau juga mengatakan, “Allah itu di atas langit, dan ilmunya ada di segala tempat. Tiada satupun yang terluput dari pengetahuan-Nya.” Demikianlah kalimat-kalimatnya yang tegas dalam memegang Sunnah dan aqidah yang lurus, serta memerangi bid’ah dan para pelakunya.
WAFATNYA
Beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 179 H di Madinah dalam usia 86 tahun. Jenazahnya dishalati oleh Gubernur Madinah saat itu, Abdullah bin Muhammad al-Abbasi al-Hasyimi, lalu dimakamkan di pemakaman Baqi’.
KARYA-KARYANYA
Imam Malik meninggalkan karya-karya yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi kaum muslimin, di antaranya yang paling terkenal dan menjadi salah satu kitab induk dalam merujuk hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yaitu kita Al-Muwaththa’. Di samping itu, karya-karya beliau yang lain seperti Risalah fil Qadar, Risalah fil Aqdhiyah, Juz’fit Tafsir, Kitab as-Sir, dan lainnya. Belum lagi fatwa-fatwa dan jawaban-jawaban beliau terhadap berbagai permasalahan agama yang termuat dalam kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra yang beliau susun sendiri, dan fatwa-fatwa beliau dalam kitab At-Tamhid yang disusun oleh Ibnu Abdil Bar. Sebelum wafat, beliau sempat membaca potongan ayat ke-4 dalam Surat Ar-Rum:
… لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ …
“Bagi Allah-lah segala urusan sebelum dan sesudah (terjadinya)”
Itu menunjukkan keridhaan beliau dengan takdir Allah, karena ajal adalah bagian dari takdir-Nya. Rahimahullahu rahmatan wasi’ah wa jazahu ‘anil Islam wal muslimin khairal jaza’.-Wallahu a’lam-
Referensi:
1. Siyar A’lam An-Nubala’ karya Adz Dzahabi.
2. Tahdzib At-Tahdzib karya Ibnu Hajar
3. Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban.
4. Kitab-kitab lain tentang rihal dan biografi ulama.
______________
Catatan kaki
1. Anak keturunan DzuAshbah yang bernama asli Al-Harits bin ‘Auf. 2. Nisbat kepada Himyar Al-Ashgar yang nama aslinya adalah Zur’ah. 3. Nisbat kepada kota Madinah, tempat lahir dan tinggalnya. 4. Ada pula yang mengatakan tahun 94 H. 5. Seperti diberitakan oleh Yan’aqid, Al-Waqidi, dan Muhammad bin Adh-Dhahhak. 6. Tepatnya setelah wafatnya dua anak Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma yaitu Al-Qasim dan Salim. 7. Juga menjadi murid Imam Abu Hanifah. 8. Perawi Al-Muwaththa’ yang merupakan muridnya yang terakhir wafat. 9 Istiwa’ artinya tinggi di atas, sebagaimana dinukil oleh Bukhari dalam Shahihnya dari sebagian tabi’in di antaranya Abu Al-‘Aliyah.
Diasuh oleh : Abu Humaid Arif SyarifuddinMajalah Fatawa, Volume 03/I/Dzulqa’dah 1423H-2003M
September 25, 2007 oleh 4bu4isyah
Islam adalah agama yang Allah Subhanallahuwata’ala ridhai. Di antara bentuk keridhaan-Nya adalah menjaga agama Islam ini dari kepunahan dan kerusakan. Satu di antara bentuk penjagaan itu adalah dengan memunculkan para ulama sebagai penerus dan pewaris Nabi Shallallahu’alaihi wasallam dalam rangka menyampaikan risalah suci kepada manusia, membela dan mempertahankannya dari gangguan ‘tangan-tangan’ musuh islam dan muslimin, yang tidak senang dengan langgengnya kemurnian Islam. Baik dari orang-orang kafir, kaum munafik, ahli bid’ah atau siapa saja yang serupa dan mengikuti jejak mereka. Banyak sekali ulama Islam yang muncul setelah masa kenabian, dan salah satunya adalah yang ingin kami hadirkan kehadapan para pembaca guna mengambil pelajaran dan ibrah dari perjalanan hidupnya. Dia adalah salah satu dari empat imam dari generasi ketiga yang tentu tidak asing lagi di telinga kita.
NASAB DAN PERTUMBUHANNYA
Ia adalah Malik bin Anas bin Malik bin Abu Amir Al-Ashbahi1 Al-Himyari2 Al-Madani3. Ibunya bernama ‘Aliyah binti Syuraik Al-Azdiyah.Imam Darul Hijrah adalah gelar yang disandangnya, dengan kun-yah Abu Abdillah.Ia terlahir di kota Madinah pada tahun 93 H4 (ada pula yang mengatakan 94 H). Tahun itu kaum muslimin berkabung karena wafatnya Anas bin Malik An-Najjari Al-Anshari Radhiyallahu’anhu. Tanda-tanda keluarbiasaannya telah tampak sejak ia berada dalam kandungan, karena tak seperti bayi yang lain, ia berada dalam kandungan ibunya selama tiga tahun.5 Pada masa pertumbuhannya, Malik bin Anas hidup dalam lingkungan yang terjaga, penuh suasana bahagia dan keindahan. Ia mulai menuntut ilmu pada usianya yang belia. Ketika masih berusia belasan tahun, beliau sudah menimba ilmu dari ulama generasi tabi’in yang masih ada saat itu6 seperti Nafi’ maula Ibnu Umar, Sa’id Al-Maqburi, ‘Amir bin Abdullah bin Az-Zubair bin al-‘Awwam, Muhammad bin Al-Munkadir, Az-Zuhri, Abdullah bin Dinar, Ayub As-Sikhtiyani, Ja’far bin Muhammad Ash-Shadiq, Humaid Ath-Thawil, Rabi’ah Ar-Ra’y, Zaid bin Aslam, Salamah bin Dinar, Shalih bin Kaisan, Abi Zinad Abdullah bin Dzakwan, ‘Atha’ Al-Khurasani, Hisyam bin Urwah, Yahya bin Sa’id Al-Anshari dan masih banyak lagi yang lainnya dari generasi tabi’in. Begitu pula ia mengambil ilmu dari teman-teman seangkatannya dari para atba’ tabi’in yang sama-sama menuntut ilmu. Sehingga bila dihitung jumlah semua orang yang pernah ia ambil ilmunya adalah sekitar 1400 orang. Begitu banyak guru yang mengajarnya, sehingga tidaklah mengherankan bila kemudian ia menjadi sosok seorang alim sejati yang pada usia dua puluh satu tahun sudah bisa berfatwa. Usia yang masih relatif muda untuk ukuran seorang alim pada zamannya. Bahkan ia menjadi seorang imam dalam bidang hadits di kota kelahirannya, Madinah, kota Nabi Shallallahu’alaihiwasallam; kota tempat kaum muslimin berhijrahpada awal perjuangan Islam. Karena itulah ia digelari Imam Darul Hijrah. Selain sebagai seorang ahli dalam bidang hadits, ia juga adalah seorang yang fakih di masanya. Ijtihad dan pendapat-pendapatnya kemudian dijadikan pegangan oleh banyak kaum muslimin dan dijadikan sebagai suatu mazhab yang dianut sampai saat ini.
ILMU IMAM MALIK
Karena keluasan ilmu hadits dan fikih yang dimilikinya, banyak orang yang duduk mengambil faedah dan berguru kepadanya. Bahkan diantara mereka turut menimba ilmu darinya guru-gurunya sendiri seperti pamannya sendiri Abu Suhail, yahya bin Abi Katsir, Az-Zuhri, Yahya bin Al-Had, Zaid bin Abi Unaisah, Umar bin Muhammad bin Zaid, dan lainnya. Banyak pula teman-teman sebayanya yang menimba ilmu darinya seperti Ma’mar, Ibnu Juraij, Abu Hanifah, Al Auza’i, Syu’bah, Sufyan Ats Tsauri, Al Laits bin Sa’ad, Hammad bin Zaid, dan yang lainnya. Belum lagi murid-murid yang tingkatannya di bawah beliau seperti Sufyan bin Uyainah, Abdullah bin Al-Mubarak, Ad-darawardi, Ibnu Ulayyah, Muhammad bin Al-Hasan Al-Faqih7, Abdurrahman bin Mahdi, Abdullah bin Wahb, Waqi’, Yahya al-Qaththan, Abu Hudzafah8, dan salah satunya adalah imam yang masyhur di antara imam yang empat, yaitu Imam As-Syafi’i – rahimahullah- , serta masih banyak lagi yang lain yang datang dari berbagai penjuru negeri di masa khalifah Abu Ja’far Al Manshur, terlebih lagi pada masa khalifah Harun Ar-Rasyid.
Imam An-Nasa’i berkata, “Aku tidak punya orang setelah generasi tabi’in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik.”
PUJIAN PARA ULAMA TERHADAPNYA
Pujian demi pujian terlayangkan kepadanya, baik dari para ulama sezamannya maupun yang dating setelahnya. Di antara pujian tersebut adalah apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Uyainah tatkala menafsirkan sabda Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah Radhiyallahu’anhu yang berbunyi,
“Nanti, akan keluar orang-orang dari arah timur dan barat demi menuntut ilmu, lalu mereka tidak menjumpai seorang pun yang lebih alim daripada alimnya kota Madinah.”
Ibnu Uyainah berkata, “Dahulu aku katakan yang dimaksud (dengan ‘alimnya kota Madinah’) dalam hadits tersebut adalah Sa’id bin Al-Musayyab, tetapi bukankah di zamannya masih ada Sulaiman bin Yassar, Salim bin Abdullah, dan yang lainnya? Maka sekarang saya katakan bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah Malik bin Anas, karena tidak ada alim lain yang menandinginya (saat itu).” Di lain waktu Ibnu Uyainah juga berkata, “Malik adalah alimnya penduduk Hijaz, dan ia adalah hujjah di zamannya.” Imam Asy-Safi’i menyambungnya seraya berkata, ”Hal itu benar, dan bila ulama disebut-sebut, maka Malik-lah bintangnya.” Imam An-Nasa’i berkata,”Aku tidak punya orang setelah generasi tabi’in yang lebih pandai, mulia, tsiqah, dan terpercaya dalam hadits, selain Malik.” Ibnu Hibban berkata, “Malik adalah orang yang pertama yang memilah-milah para perawi dari kalangan fuqaha di Madinah.” Yahya bin sa’id Al-Anshari, ketika ditunjuk oleh Amirul Mukminin Abu Ja’far Al-Manshur untuk menjadi qadhi, pernah meminta kepada Malik agar menuliskan untuknya seratus hadits ketika ia hendak pergi ke Irak. Dan Abu Ja’far sendiri sering bertanya kepadanya tentang halal dan haram, sampai suatu saat ia berkata kepada Malik, “Demi Allah. Engkau adalah orang yang paling pandai dan alim.” Malik menjawab, “Demi Allah, tidak demikian, wahai Amirul Mukminin”. Abu Ja’far berkata, “Betul! Hanya saja engkau menyembunyikannya.” Lalu kata Abu Ja’far lagi,”Demi Allah, sungguh saya akan menulis perkataanmu sebagaimana ditulisnya mushaf-mushaf (Al-Qur’an) demi kebaikan kita dan disebar ke berbagai pelosok negeri.” Meskipun banyak pujian yang terarah kepada beliau dari para ulama di zamannya, beliau tetap menunjukkan sikap tawaddhu (rendah hati) dan tidak ingin dilebih-lebihkan sebagaiman ungkapan beliau,”Tidaklah aku ini melainkan seorang manusia yang bisa salah dan bisa benar. Karena itu, lihatlah pendapatku, apa saja yang sesuai Sunnah, maka ambillah.”
Pada suatu saat datanglah masa ujian dan cobaan bagi Imam Malik. Begini ceritanya. Abu Ja’far Al-Manshur pernah melarang Malik menyampaikan hadits: “Seorang yang dipaksa (mentalak istrinya), tidak jatuh talaknya” dan berfatwa tentangnya. Kemudian ada seseorang yang ingin ‘memancing di air keruh’ bertanya kepada Imam Malik perihal hadits tersebut. Sang Imam pun akhirnya menyampaikannya di hadapan khalayak, yang menunjukkan beliau tidak membenarkan talak orang yang dipaksa. Mendengar hal itu Abu Ja’far marah, lalu ia pun memerintahkan Ja’far bin Sulaiman, Gubernur Madinah saat itu, untuk mencambuk Malik. Maka dicambuklah beliau sebanyak 70 kali hingga lumpuh separuh kedua tangannya. Namun begitu Imam Malik tetap teguh dan bersabar. Beliau mengusap darah di punggungnya lalu masuk ke dalam masjid dan shalat. Setelah itu dia berkata,”Seperti inilah yang dilakukan oleh Sa’id bin Al-Musayyib ketika dahulu dicambuk. ”Demikianlah, ujian dan cobaan tidak dapat terlepas dari kehidupan setiap mukmin, apalagi seorang alim yang berjalan mengikuti jejak para nabi dan rasul.
KETEGUHANNYA DI ATAS SUNNAH DAN AQIDAH
Banyak kalimat dan atsar dari beliau yang menunjukkan beliau adalah seorang imam pembela aqidah dan sunnah, serta memerangi bid’ah dan para pelakunya. Di antaranya, beliau pernah berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihiwasallam dan para pemimpin setelahnya (Khulafa’ Rasyidun) telah menetapkan sunnah-sunnah. Menjalankannya berarti mengikuti Kitabullah yang merupakan bentuk ketaatan sempurna kepada Allah dan keteguhan di atas agama-Nya. Siapa saja yang mengambilnya sebagai petunjuk, maka akan diberi petunjuk, dan siapapun yang mencari pertolongan dengannya, niscaya dia akan ditolong. Sebaliknya, barangsiapa yang meninggalkan jalan kaum mukminin (yakni para sahabat Nabi Shallallhu’alaihiwasallam) maka Allah akan memalingkannya kearah mana dia berpaling, lalu memasukkannya ke dalam neraka Jahannam, dan jahannam itu adalah sejelek-jelek tempat kembali –wal ‘iyadzu billah –“. Asy-Syafi’i menceritakan bahwa Imam Malik pernah didatangi oleh sebagian ahli bid’ah lalu beliau berkata, “Adapun aku, maka sungguh aku berada di atas petunjuk agamaku, adapun kamu pergilah kepada orang yang ragu sepertimu, “lalu beliau pun membantah mereka. Imam Malik pernah ditanya, “Apa pendapatmu tentang orang yang mengatakan Al-Qur’an itu makhluk?” Beliau menjawab, “Dia itu seorang zindiq (kafir), maka bunuhlah.” Di lain waktu beliau mengatakan, “Al-Qur’an itu kalamullah. Kalamullah adalah bagian dari (Dzat dan sifat) Allah, dan tidak ada satupun dari (sifat dan dzat) Allah yang dikatakan makhluk.” Beliau juga pernah ditanya tentang kelompok Qadariyah, jawab beliau, :Saya berpendapat bahwa mereka harus diminta bertaubat, (maka diterima taubatnya), sedang jika tidak, maka dibunuh.” Pernah ada seseorang datang kepada Imam Malik membaca Firman Allah Subhanahu wata’ala:
الرَّحْمَنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى
Allah beristiwa’9 di atas ‘Arsy.(Q.S. Thaha:5)
Kemudian orang itu bertanya, “Bagaimana istiwa’ Allah itu?” Imam Malik marah sampai berkeringat dan mengetuk-ngetuk tongkatnya ke tanah seraya berkata, “istiwa’ itu sama diketahui maknanya (dalam bahasa Arab). Adapun hakekatnya, tidaklah diketahui. Mengimaninya wajib, dan bertanya ‘bagaimananya’ adalah bid’ah. Dan saya kira kamu ini seorang ahli bid’ah.” Beliau lalu meminta agar orang itu dikeluarkan dari majelisnya. Dalam riwayat lain beliau menjawab, “Allah ber-istiwa’ sebagaimana yang Ia sifati sendiri untuk diri-Nya, tidak boleh ditanya bagaimananya.” Beliau juga mengatakan, “Allah itu di atas langit, dan ilmunya ada di segala tempat. Tiada satupun yang terluput dari pengetahuan-Nya.” Demikianlah kalimat-kalimatnya yang tegas dalam memegang Sunnah dan aqidah yang lurus, serta memerangi bid’ah dan para pelakunya.
WAFATNYA
Beliau wafat pada bulan Rabi’ul Awwal tahun 179 H di Madinah dalam usia 86 tahun. Jenazahnya dishalati oleh Gubernur Madinah saat itu, Abdullah bin Muhammad al-Abbasi al-Hasyimi, lalu dimakamkan di pemakaman Baqi’.
KARYA-KARYANYA
Imam Malik meninggalkan karya-karya yang sangat berharga dan tinggi nilainya bagi kaum muslimin, di antaranya yang paling terkenal dan menjadi salah satu kitab induk dalam merujuk hadits-hadits Nabi Shallallahu’alaihiwasallam yaitu kita Al-Muwaththa’. Di samping itu, karya-karya beliau yang lain seperti Risalah fil Qadar, Risalah fil Aqdhiyah, Juz’fit Tafsir, Kitab as-Sir, dan lainnya. Belum lagi fatwa-fatwa dan jawaban-jawaban beliau terhadap berbagai permasalahan agama yang termuat dalam kitab Al-Mudawwanah Al-Kubra yang beliau susun sendiri, dan fatwa-fatwa beliau dalam kitab At-Tamhid yang disusun oleh Ibnu Abdil Bar. Sebelum wafat, beliau sempat membaca potongan ayat ke-4 dalam Surat Ar-Rum:
… لِلَّهِ الْأَمْرُ مِن قَبْلُ وَمِن بَعْدُ …
“Bagi Allah-lah segala urusan sebelum dan sesudah (terjadinya)”
Itu menunjukkan keridhaan beliau dengan takdir Allah, karena ajal adalah bagian dari takdir-Nya. Rahimahullahu rahmatan wasi’ah wa jazahu ‘anil Islam wal muslimin khairal jaza’.-Wallahu a’lam-
Referensi:
1. Siyar A’lam An-Nubala’ karya Adz Dzahabi.
2. Tahdzib At-Tahdzib karya Ibnu Hajar
3. Ats-Tsiqat karya Ibnu Hibban.
4. Kitab-kitab lain tentang rihal dan biografi ulama.
______________
Catatan kaki
1. Anak keturunan DzuAshbah yang bernama asli Al-Harits bin ‘Auf. 2. Nisbat kepada Himyar Al-Ashgar yang nama aslinya adalah Zur’ah. 3. Nisbat kepada kota Madinah, tempat lahir dan tinggalnya. 4. Ada pula yang mengatakan tahun 94 H. 5. Seperti diberitakan oleh Yan’aqid, Al-Waqidi, dan Muhammad bin Adh-Dhahhak. 6. Tepatnya setelah wafatnya dua anak Abdullah bin Umar Radhiyallahu’anhuma yaitu Al-Qasim dan Salim. 7. Juga menjadi murid Imam Abu Hanifah. 8. Perawi Al-Muwaththa’ yang merupakan muridnya yang terakhir wafat. 9 Istiwa’ artinya tinggi di atas, sebagaimana dinukil oleh Bukhari dalam Shahihnya dari sebagian tabi’in di antaranya Abu Al-‘Aliyah.
Diasuh oleh : Abu Humaid Arif SyarifuddinMajalah Fatawa, Volume 03/I/Dzulqa’dah 1423H-2003M
Langganan:
Komentar (Atom)